t “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)” « Ekonomi Kerakyatan

“Perguruan Tinggi Desa (PTDes)”

Awan Santosa

Perjalanan riset saya di berbagai desa di Indonesia telah menemukan begitu banyak fenomena lemahnya penguasaan rakyat desa atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah ini telah lama berimplikasi pada kelambatan inovasi bisnis, kecilnya nilai tambah ekonomi, dan ketergantungan desa pada perantara dari luar desa, pun termasuk perguruan tinggi dan LSM. Keberdikarian dan keahlian orang desa yang dahulu pernah mewujud telah memudar dan berganti oleh dominasi korporasi swasta besar dari luar desa.

Ratusan ribu fakultas di perguruan tinggi se-Indonesia kiranya belum sepenuhnya mampu menjawab akar persoalan ekonomi rakyat desa tersebut. Sedikitnya kisah sukses desa mandiri seakan menjadi pertanda pendidikan tinggi kita yang belum sepenuhnya berorientasi pada keberdikarian desa. Alih-alih itu, jiwa keberdikarian perguruan tinggi justru masih menjadi tanda tanya manakala terjadi penetrasi institusional Bank Dunia dan Pemerintah AS di beberapa perguruan tinggi kita.

Banyak anak-anak muda desa yang telah dididik di perguruan tinggi kita tetapi sebagai besar justru menjadi lupa dengan jatidiri dan tugas mulianya untuk kembali membangun desa. Sebagian mereka bahkan lebih bangga berdasi meski hanya untuk sekedar menjadi buruh korporasi dari luar negeri. Pun sebagian lagi telanjur tercerabut dari akar mereka di desa, namun tak juga mendapat tempat di pasar tenaga kerja, sehingga menambah panjang deret pengangguran terdidik di negeri ini.

Pendidikan kita tak kunjung mampu merombak pola relasi yang timpang antara desa dan kota. Desa dengan segala kekayaannya masih menjadi pemasok yang setia bagi kemakmuran masyarakat kota dengan kontraprestasi yang tidak sepantasnya. Telah begitu banyak hutan dan kebun yang ditumbuhkan, pun tak terhitung lagi jutaan ton aneka mineral dan tambang yang dikeruk dari desa, sementara mayoritas penduduk miskin masih tertinggal di desa, dan marjinalisasi terus terjadi di sana.

Melihat berbagai situasi ini kiranya kita perlu berhitung ulang  peran perguruan tinggi atas kemajuan desa. Pola relasi yang selama ini terbangun di mana prakarsa transfer iptek selalu datang dari luar desa perlu ditinjau ulang dengan semangat tranformasi kuasa pengetahuan oleh rakyat desa. Efektifitas proses tersebut sangat ditentukan oleh keberhasilan  penguasaan metodologi pengembangan iptek oleh mereka, di mana mereka lah yang akan merancang tata kelola pengetahuan dan pembangunan di wilayah desa.

Berlatar belakang itulah saya membayangkan model pendidikan alternatif yang saya sebut dengan “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)”, yang selanjutnya dapat diberi nama secara khusus semisal Sekolah Tinggi Sriharjo (Sriharjo College), Argosari Cllege, dan sebagainya. Dalam PTDes maka rancang bangun pendidikan yang berbasis kemakmuran dan keberdikarian desa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat desa.

Pun semua keahlian yang diperlukan untuk membangun desa disedikan oleh PTDes yang akan mendisain kurikulum, merekrut tenaga pengajar dari dalam dan luar desa, serta menyelenggarakan bermacam pendidikan dan pelatihan aplikasi iptek yang diperlukan seluruh warga desa. PTDes ini kiranya sejalan dengan perluasan peran desa yang menjadi semangat RUU Desa yang akan segera disahkan oleh Pemerintah dan DPR.

PTDes inilah yang akan merebut kuasa iptek yang selama ini didominasi oleh elit-elit akademisi di pusat kota bahkan di luar negara. Ialah juga akan mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli produktif desa yang memiliki keahlian spesifik semisal di bidang teknik, usaha, sosial-politik, hukum, dan kesehatan untuk diabdikan sepenuhnya bagi kemajuan dan keberdikarian masyarakat desa. Tugas mulia mereka adalah memobilisasi penggunaan potensi sumber daya domestik desa dengan penguasaan iptek mereka.

PTDes akan menjadi media revolusi kebudayaan (kesadaran) dan persemaian keahlian warga desa, semisal dalam inovasi energi berbasis tenaga surya, mikro-hidro, sampah, dan kotoran ternak. Pun ia akan menjadi inkubator pemikiran dan perencanaan tumbuh kembangnya bisnis koperasi, ekonomi rakyat desa, trading house, klinik kesehatan, keuangan mikro, wisata desa, industri rumah tangga dan industri desa, serta berbagai inovasi berbasis iptek lainnya.

Model seperti ini berhasil dilakukan di India oleh Bunker Roy dengan Bare-foot College-nya yang sudah membuat warga desa mampu menguasai energi berbasis tenaga surya. Bare-foot college juga telah mendidik warga desa untuk memiliki keahlian professional sepertihalnya teknisi, guru, akuntan, dan sebagainya, seperti yang biasa dilakukan lembaga pendidikan formal di kota-kota besar. Lebih dari itu Roy telah mengenalkan model Sekolah Malam (Night School) bagi anak-anak desa yang karena keterbatasan keluarga harus bekerja di siang hari.

PTDes yang dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh masyarakat desa akan menjadi konsultan bagi rencana pembangunan desa dan berbagai program (project) yang masuk ke desa. Ialah yang akan membantu mengarahkan proses transformasi desa melalui rancang bangun pemajuan dan pemandirian desa selama kurun waktu 5-10 tahun depan. Pada akhirnya melalui PTDes lah masyarakat desa sanggup dengan penuh wibawa mengucapkan selamat tinggal pada Bank Dunia. Cukup sudah utang-utang lunak yang harus dikompensasi mahal dengan terkurasnya kekayaan alam Indonesia.

Pada awalnya disain PTDes dirancang se-sederhana mungkin dengan mempertimbangkan kapasitas sumber daya desa. Pendanaan dapat dilakukan melalui dukungan APBDes, dana pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM. Dalam pelaksanaan programnya maka PTDes dapat berkerjama dengan berbagai perguruan tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, Dinas Pendidikan, dan LSM, tentu dengan perencaan kolektif yang didasarkan pada kebutuhan dan rencana kerja PTDes.

Dalam pada itu, sesuai dengan tuntutan perubahan peran perguruan tinggi di atas, maka tugas mulia kita adalah melembagakan pendidikan alternatif tersebut melalui fasilitasi pendirian PTDes. Perguruan tinggi lah yang akan mengajari calon-calon pengelola PTDes bagaimana mendisain kurikulum, metode pembelajaran, rekruitmen ahli, dan proses penyelenggaran pendidikan dan pelatihan sampai pada kebutuhan-kebutuhan detail dan operasional.

Saya sangat memimpikan keberadaan PTDes ini dan akan berupaya sekuat tenaga untuk merealisasikannya. Sampai saat ini banyak daerah dan kota yang saya datangi untuk berbicara tentang ekonomi kerakyatan dan keberdikarian ekonomi desa. Sayangnya kebanyakan undangan tersebut berasal dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan LSM, bahkan mungkin tak pernah sekali pun yang berasal dari organisasi rakyat desa, mereka yang selama ini rajin dan rutin kita diskusikan.

Sungguh Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri. PTDes yang memberi kesempatan dan kemampuan masyarakat desa untuk mengelola pengetahuan secara mandiri adalah salah satu alternatif untuk itu. Sungguh saya sangat memimpikan kelak banyak undangan mengajar, seminar, pelatihan, dan diskusi dari organisasi rakyat desa seperti PTDes. Pada saat itulah pertanda sinar kebangkitan kembali rakyat desa Indonesia mulai terpancar dan harapan mereka untuk menjadi tuan di desa sendiri akan segera menjadi kenyataan. Semoga.

23 Mar 2010, 10:49am
by dony agus pramanco EM UMB no mhs: 09051115


Terima Kasih pak Awan, atas diperkenankannya saya selaku mahasiswa bapak, untuk memberikan critical reviews

Pendidikan memang menjadi salah satu pilar dan bagian yg sangat penting dalam pembangunan suatu negara.
Namun mengingat Masyarakat Indonesia sebagian besar masih belum merata atas tingkat keberhasilan sebuah pilar pembangunannya, maka dibutuhkan sebuah institusi yang bisa mengemban dan menjadikan pendidikan negara itu bisa maju sesuai dengan karakter negara itu.

Seperti ekonomi ,Indonesia juga terdiri dari sebuah mayoritas elemen negara yaitu penduduk yang masih berwawasan tradisonal. Cirikhas inilah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dans ekaligus dikembangkan dalam dunia pendidikan. dalam Hal ini ada istilah yang dikemukakan oleh Pak Awan Senotosa yaitu “Perguruan Tinggi Desa”

Pendidikan ini di kemukakan dilatar belakangi oleh ,fakta bahwa perguruan tinggi di Indoesia selama ini masih menganut dan berpatokan dari penetrasi kemodernitasan luar dan atau korporasi dari asing.

Sungguh tepat rasanya jika hal ini bisa diterapkan, di Indonesia. Sehingga bisa meningkatkan potensi potensi kerakyatan di negara Kita,sehingga kita tidak kehilangan jatidiri dan identitas Negara Indonesia. Bahkan kita bisa memberikan influence ke negara Lain.

Namun metode dan gagasan ini, boleh saja atau bisa terlaksana. Tetapi apakah bisa semudah itu, mengigat paradigma masyarakat atau para orang tua murud yang menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi yang prestisius atau konevesional seperti yang lain.
Tidak mudah rasanya bisa merubah image tersebut, belum alagi pakah dari lembaga terkait bisa memberikan izin atau menyetujui ide tersebut.

Mungkin dari lokasi,kita bisa mulai diadakannya Perguruan Tinggi desa ini, setidaknya bisa mendekatkan diri dengan lingkungan pedesaan, atau selama ini ada dengan diadakannya mata kuliah “Kuliah Kerja Nyata”, namun fakta di lapangan metode ini malah justru tidak efektif bahkan cenderung membuang waktu , uang dan tenaga.

Pendapat saya,penting sekali adanya penanaman paradigma ke masyarakat dengan ide atau gagasan ini. Dari segi ekonomi kita juga sangat tergantung adanya sistem ekonomi kerakyatan. Tanpa mengesampingkan adanya modal dari luar,namun dengan pembekalan visi dan misi dengan kesesuaian jati diri bangsa kita,Insya Allah Masyarakat Indonesia bisa mempunyai karakter dan membangun bangsanya sendiri dengan kekuatan yang ada di diri bangsa kita.

Ingat 99.2% ekonomi bangsa kita, adalah ekonomi kerakyatan dimana berasal dari daerah atau pedesaan.

24 Mar 2010, 2:13am
by Agit Widi Pratono/UMBY


saya mahasiswa di UMBY saya sudah kerja di Kantor Pusat UGM ijinkan saya memberi semacam masukan walaupun hanya sedikit,
Pak kalo boleh saya bilang Perekonomian indonesia saat ini sebenarnya sudah ekonomi kerakyatan, tapi masih setengah hati yang selama ini dilakukan oleh pemerintah karena mungkin kita sudah selama 32 tahun selama masa presiden suharto sudah terlalu senang dan “ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi atas apa yang kita nikmati pada masa itu khususnya untuk orang desa itu sendiri.

jadi masyarakat desa sekarang mungkin sudah tertanam dibenak mereka “urip penak jaman biyen”, kalau dilihat dari kehidupan sehari-hari sekarang keluarga didesa sudah seperti dikota apalagi di pulau jawa ini yang sangat berpengaruh yaitu televisi, radio ataupun media massa lainnya yang kontennya modernisasi disegala bidang, oleh karena itu untuk mengubah pola pikir masyarakat desa yang menjadi obyek untuk ekonomi kerakyatan sebaiknya kita harus mengubah dulu pola hidup dan prilaku masyarakat desa itu sendiri yang sekarang juga sudah terserang penyakit perkotaan (lawan kata ndeso) yang juga sudah cukup kronis.

kita sendiri sebagai istilahnya orang ndeso, dulu orang tua kita menyekolahkan kita kekota agar dapat ilmu yang sesuai dengan perkembangan zaman(modern) sekarang setelah kita dapat ilmu kita semakin sadar bahwa kita sendiri sacara tidak sadar sudah meninggalkan desa kita itu sendiri.
dan sekarang kita hidup, kalau istilah sekarang masa reformasi/transisi/perubahan/mencari jati diri atau whatever lah……, yang jelas modernisasi tetap harus diperhitungkan karena kita sudah ikut didalamnya, modernisasi sekarang mungkin sifatnya memaksa dan kita mau saja mengikutinya…

Jati diri bangsa indonesia sebenarnya adalah pada masa presiden soekarno dan diteruskan pada masa presiden soeharto yang menerapkan sistem neoliberalisme terselubung dan terpusat.

untuk saat ini dalam membangun perekonomian indonesia yang sesuai dengan pasal 33 UUD “1945″ mungkin yang paling tepat menurut saya adalah “Ekonomi kerakyatan berbasis sosio-cultural setempat”

24 Mar 2010, 3:40am
by David Thenius (09051017)


saya setuju pak, karena semua kekayaan alam yang ada di Indonesia sebagian besar ada di desa… Dan apa jadinya jika orang yang berada di desa tersebut tidak tahu cara mengolah kekayaan alam yang ada di desanya tersebut. Alangkah baiknya jika perguruan tinggi itu berada di desa, karena akan memudahkan masyarakat yang berada di desa tersebut yang mempunyai potensi yang cukup baik untuk mengelola Sumber Daya Alam yang ada di wilayah tersebut…

24 Mar 2010, 6:37am
by Lusiana Lestari Yulianti ( Mnjm UMB)


Salam Sejahtera,dan terimakasih atas ijin Pak Awan untuk critical review saya…

Mengingat pendidikan sangat penting dan menjadi hak bagi semua orang tanpa memandang usia, asal dan ras, saya sangat mendukung usaha Pak Awan dan semua pemikiran positif yang telah tercetus dan semoga bisa direalisasikan.

Saya bisa merasakan keterbatasan yang dialami orang – orang yang tidak mampu terutama secara finansial untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. Dan mungkin atas dasar finansial pula banyak orang khususnya orang desa terbatas sekali pendidikannya. Jangankan perguruan tinggi mungkin baca – tulis saja ada yang tidak bisa sama – sekali. Yang penting bisa makan tiga kali sehari cukup itu sudah bagus buat mereka.Dengan begitu sudah menjadi tugas kita semua untuk membuka kesadaran mereka terlebih dahulu tentang petingnya pendidikan.

Mengingat berbagai kemajuan seringkali hanya terpusat di kota – kota besar , seringkali pula pemerintah melupakan kaum terpencil khususnya orang desa. Dahulu jaman orde lama seringkali diupayakan pendidikan dasar kejar paket A untuk mengajari baca – tulis. Juga dibidang pertanian ada lomba kelompencampir. Dan sekarang semakin maju teknologi sudah sepantasnya ada ” Perguruan Tinggi Desa ” seperti pemikiran yang disampaikan oleh Pak Awan. Tujuannya pun sangat mulia juga supaya masyarakat desa khususnya generasi muda tidak usah
jauh pergi merantau kekota untuk studi juga tidak melupakan tugas mulia membangun desa untuk lebih maju.

Oleh karena itu sangat baik ide – ide segar dan positif seperti yang Pak Awan sampaikan bisa sampai kepada decicion maker dalam hal ini pemerintah untuk dianalisa dan direalisasikan. Juga desa dalam hal kesadaran tentang pendidikan, jangan sampai ide – ide positif seperti ini hanya menjadi ” wacana ” saja.Sebab jika hanya menjadii wacana maka pemikiran orang yang smart akan sia – sia dan desa tetap tertinggal dalam kemajuannya.

Diakhir kata, semoga impian yang dicita – citakan untuk kemajuan bangsa ini dapat terealisasikan…

25 Mar 2010, 1:24am
by Agustinus Iriandhani EM 09051097


Perkenankan saya selaku mahasiswa bapak, untuk memberikan critical reviews…

Pendidikan adalah kunci utama suatu keberhasilan dalam suatu negara . Menurut saya untuk mewujudkan terciptanya keberhasilan itu perlu sekali penerapan Perguruan Tinggi Desa , saat ini Perguruan Tinggi banyak sekali berada di perkotaan sedangkan banyak sekali calon calon mahasiswa yang berasal dari pedesaan, Kunci utamanya adalah mahasiswa ataupun alumni- alumni yang ingin menciptakan Perguruan Tinggi Pedesaan itu berasal di sekitar keberadaan Perguruan Tinggi tersebut, dan sumber daya manusia yang ada.

Dan untuk menunjang semua itu partisipasi dari masyarakat atau pun elemen- elemen terkait sangat di perlukan , sangat penting sekali jiwa Enterpreurship dan Leadership dalam hal ini. Yang perlu di ingat banyak sekali kekayaan alam maupun sumber daya manusia yang saat ini ada berasal dari pedesaan, dengan banyaknya keterbatasan baik dari segi biaya maupun kemampuan dan kemauan maka masyarakat pedesaan perlu adanya sosialisasi sebelum rencana itu di terapkan. Kiranya gagasan Pak Awan dalam mewujudkan bagian dari Perekomian Indonesia melalui Perguruan Tinggi Pedesaan mendapat dukungan dari pihak- pihak yang terkait dan segera terealisasi .

Sekiranya ini sedikit masukan dari saya dan Maju Terus Perekonomian Indonesia .

25 Mar 2010, 2:08am
by Bernadeta Sogin UMBY manajemen ( 08051051 )


Saya setuju degan bapak
Kemajuan yang ada didesa saat ini memang kurang baik dan banyak juga anak – anak yang berasal dari desa lupa dimana asal dia .
Saya ingin mengetahui lebih lanjut tentang ekonomi kerakyatan sebab saya mau meneliti orang -orang yang ada didaerah saya . kenapa mereka memilih bekerja diluar negeri daripada di dalam negeri dan mengapa PT yang ada ditempat saya mayoritas dipegang orang luar . terima kasih

25 Mar 2010, 2:41am
by wandi manajeman( umby)


bener banget pak , memang perlu adanya perguruaan tinggi didesa , jadi mereka yang tinggal didesa tidak perlu mengeluarkan biaya , apalagi sebagian besar warga indonesia tinggal didesa . perlu adanya institusi yang lebih baik, , tidak hanya SD, SMP, SMA, perlu suatu yang lebih yaitu” PTDes.”agar mereka dapat berkarya , mempunyai kemampuan , untuk meningkatkan kemajuaan perekonomian indonesia ,tentunya yang di desa juga mempunyai cita- cita .
ya ud nic saja pak
terimakasih

25 Mar 2010, 9:10am
by Dwi jayanti MJ.09UMBY


tunggu coment selengkapnya,hhee

25 Mar 2010, 11:56pm
by puput astiyani


saya mahasisiwa umby jurusan manajemen 2009. saya setuju banget kok pak. tentang semua ide – ide bapak yang dikemukakan salah satunya adalah dengan di terbitkannya sebuah PTDes(perguruan Tinggi desa). yang itu nanti akan sangat membantu banget bagi masyrakat tersebut sendiri.
saya juga sangat sedih karena beribu – ribu wisudawan di indonesia pada umumnya dan di jogja pada khusunya mereka semua lupa akan jati dirinya dulu. harusnya mereka semua bisa menjadi suri tauladan yang baik dan dapat membangun desa kelahirannya menjadi lebih baik lagi.
makasih…………………………………….

26 Mar 2010, 12:36am
by sulistya nur rahmawati (rahma)


saya Rahma, mahasiswa manajemen 09 UMBY.
Menurut saya seharusnya pemerintah itu sangatlah berperan dalam usaha untuk mensejahterakan seluruh masyarakatnya tanpa harus memandang bulu. Pemerintah tentu harus mengambil peran untuk usaha tersebut.
untuk Perguruan Tinggi Desa atau PTDes, saya sangat setuju sekali. Bahkan itulah yang akan membebaskan masyarakat dari ketergantungan kepada seluruh pemenuh kebutuhan, yang sebenarnya itu berasal dari perusahaan perusahaan swasta besar yang berpemimpin bukan dari pemuda atau anak bangsa di negeri ini sendiri.
ini sama saja (kita yang bergantung kepada itu semua) kita telah membantu berkembangnya dan semakin pesatnya perusahaan- perusahaan asing tersebut. dan tentu saja ini adalah hal yang LUCU dan ANEH, karena kita (anak bangsa) berarti telah semakin mensejahterakan orang-orang yang sebenarnya telah menjajah dan menginjak injak tanah air ini.
Pertanyaannya adalah : Bagaimanakah agar pemerintah itu bisa SADAR, bahwa mereka harus melakukan itu?
Melakukan suatu PEROMBAKAN yang bisa untuk mengubah tata kehidupan bangsa ini yang sudah begitu memprihatinkan.
Betapa tidak, begitu ironis sekali jika kita lebih bangga memakai produk produk yang dihasilkan oleh perusahaan perusahaan yang berdireksi orang orang sukses dari negara lain yang sebenarnya mereka hanya mementingkan kepentingan mereka dan negara asal mereka saja. mereka tentu saja tidak mau tahu dampak apa yang akan ditimbulkan atau diimplikasikan dari semua itu.
Misalnya saja dengan mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada di Negeri kita. seperti yang kita tahu, bahwa SDA itu ada 2 macam, yaitu SDA yang dapat diperbaharui : tumbuhan, hewan, dsb, dan SDA yang tidak dapat diperbaharui.
Bagaimana jika yang dieksploitasi adalah SDA yang tidak dapat diperbaharui? seperti batu bara, minyak, gas, nikel, emas, dan berbagai macam mineral penting lainnya?
Kita tahu bahwa untuk membentuk mineral mineral tersebut itu membutuhkan berjuta juta tahun lamanya. Dan itu bukanlah waktu yang SINGKAT.
jika mineral mineral tersebut dieksploitasi secara terus menerus tanpa adanya pengawasan dan pertanggung jawaban yang benar, Bagaimanakah nasib anak cucu bangsa ini di masa yang akan mendatang?
Apakah generasi penerus bangsa kita harus menanggung semua itu?
menanggung yang bukan dari hasil perbuatan dan kesalahan mereka?
menanggung dari perbuatan perbuatan yang tidak bertanggung jawab dari tangan TIKUS-TIKUS BERDASI?
tidak hanya SDA yang tidak dapat diperbaharui itu saja yang akan berdampak buruk, tetapi pengeksploitasian tanpa memikirkan lingkungan serta kelangsungan hidup, akan sangat berimplikasi buruk juga.
Selain itu, betapa MALUNYA seharusnya orang orang yang terdidik di negeri ini yang lebih bangga bekerja, menjadi buruh dan kuli kuli sarjana, serta menjadi alat produksi dari perusahaan perusahaan korporasi besar itu.
PTDes ini setidaknya akan menciptakan manusia manusia terdidik yang akan membangun desa mereka, membuat masyarakat desa mereka terlepas dari belenggu ketergantunagn terhadap produk produk dari korporasi2 swasta besar, dan akan membuat mereka berswadaya, berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpa harus terus mnerus menjadi konssumen yang setia dari perusahaan2 yang hanya memikirkan kemakmuran mereka sendiri.
Untuk itu kita adalah orang orang yang juga mempunyai tanggung jawab membantu melancarkan untuk berdidinya PTDes ini.
Terutama pemerintah, baik pemerintah desa, daerah, maupun pusat, mereka adalah orang-orang yang harusnya paling bertanggung jawab, mereka yang dipilih untuk menjalankan amanah dari seluruh warga nusantara ini.
maka sekiranya mereka sadar akan pentingnya mensejahterakan masyarakat.
yang ini bisa dimulai dengan mendidik masyarakat desa itu sendiri.
Insya Allah…..

pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara sebagaimana diatur dalam pasal 31 UUD 1945. beggitupun dengan tujuan didirikannya negara ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
namun ditengah rakyat yang sulit mengakses pendidikan, bukanya subsidi malah privatisasi dan komersialisasi yang dilakukan oleh negara ini.pendidikan dijadikan komoditi untuk mencari untung yang sebesar besarnya, kampus hanya dijadikan ladang bisnis bagi para pemilik modal.
mahalnya pendidikan ternyata tidak diibangi dengan kualitas mutu juga fasilitas pendidikan. kurikulum hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar(industri kapitalisme monopoli/imperialisme) yang hanya menciptakan tenaga kerja murah siap pakai yang tidak ahli menciptakan sesuatu gunaa mengolah SDA yang ada diindonesia.
tidak akan ada perubahan yang lebih baik jika kita hanya membiarkan kondisi ini, tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa mereka mengubahnya sendiri”.untuk itu saya mengajak seluruh pemuda untuk bangkit, berorganisasi dan bergerak untuk mewujudkan pendidikan yang lebih demokratis, lebih ilmiah dan benar diabdikan untuk rakyat.
kalau ingin diskusi lebih lanjut bisa melalui email:takbermilik@yahoo.com

Ma’af saya kurang sepaham dengan sodara Sigit widi pratono, yang menyebut bahwa era pak Soeharto merupakan era terbaik ekonomi Indonesia. Justru ekonomi era Soeharto merupakan perekonomian yang tidak balance sama sekali yang hanya memikirkan sembako murah, namun seharusnya juga mengimbangi dengan kemajuan zaman. Kalau ingin Bangsa maju maka harus memupuk modal di sektor industri, yang akan meratakan kesejahteraan rakyat di seluruh Nusantara, bukan hanya pulau jawa. Nyatanya sa’at Soeharto memutuskan untuk meningkatkan perekonomian, justru malah terjadi krisis moneter yang berkepanjangan.

27 Mar 2010, 9:18pm
by Isnawati


saya setuju,dengan adanya rencana pendirian PTdes.khususnya di masing-masing desa begitu pentingnya perguruan tinggi di suatu desa yang mana nantinya akan dapat membangun suatu kehidupan didesa itu sendiri.
Namun,dalam pendirian PTdes kita dituntut agar dapat memutar otak kita agar supaya PTdes itu dapat sukses dilaksanakan.Karena apa??? sebagaimana kita semua tau bagaimana cara fikir masyarakat desa yang masih kolot dan masih sulit menerima dengan hal-hal yang baru.selain itu masih banyak masyarakat yang berpandangan kalau biaya pendidikan itu mahal khususnya untuk perguruan tinggi,yang mana tiap tahunnya mengalami kenaikan,dan itu pun setelah lulus dan menyandang gelar sarjana pun belum tentu langsung berkerja,maka dari itu kita harus dapat menghapus anggapan-anggapan negatif tersebut dari dalam diri masyarakat.
Di samping itu dalam PTdes itu harus bisa mengajarkan serta memunculkan adanya keahlian yang dapat di wujudkan kehidupan yang nyata sebagai contoh seorang lulusan dari PTdes itu mampu membuka usaha sendiri dengan kata lain mereka mampu berwirausaha sendiri tanpa harus menggantungkan hidupnya dengan perusahaan lain yang sedang marak di luaran sana.
Dan satu lagi saya kira biaya untuk PTdes itu tidak hanya dari suatu LSM saja tapi mungkin bisa juga biaya itu kita dapatkan dari seseorang yang mau membantu serta memiliki minat yang besar untuk membangun serta memajukan kehidupan masyarakat desa dan mungkin seseorang yang dimaksud adalah donatur,tapi yang paling penting lagi biaya PTdes itu harus di sesuaikan dengan kemampuan atau pendapatan masyarakat desa tiap tahunnya mgkin dengan cara yang berbeda itu akan mampu menarik minat masyarakat dengan adanya PTdes tersbut.
Harapan saya dengan adanya PTdes akan membawa dampak positif untuk bangsa indonesia khususnya masyarakat desa ,dalam membangun desa untuk PTdes maju terus dan tetap semangat.

28 Mar 2010, 8:47pm
by verry apriansyah(umby 09061046)


saya setuju pak d’dirikan PTDES ini di desa karna bisa membantu cara pengolahan dan pemanfaatan SDA yang ada di desa..kebanyakan dari mereka merusak alam di sekitar tempat tinggal mereka..mereka tidak tahu akibat dari perbuatan mereka yang telah merusak alam di sekitar mereka.. dalam hal ini PTDES sangat dibutuhkan ada di desa agar alam tidak rusak dan perekonomian di desa pun bisa lebih maju lagi..saya dukung atas ide bapak ini..

28 Mar 2010, 11:49pm
by sulistya nur rahmawati, umb mj 09, 09051080


(Rahma): hanya ingin menambahkan saja apa yang telah saya kirimkan yang kemaren tentang SDA yang tidak dapat diperbaharui yang hampir seluruhnya di bumi kita tercinta ini telah di dominasi dan dikuasai oleh inverstor-investor luar negeri….
Jenis sumber daya alam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut kemampuan perbaharuannya, yaitu:

* Sumber daya alam yang dapat dipulihkan atau diperbaharui (renewable resources). Contohnya yaitu: tanah, air, vegetasi.
* Sumber daya alam yang tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui (non renewable resources). Contohnya barang tambang fosil (batu bara, minyak bumi, gas alam), mineral, batuan.
* Sumber daya alam yang dapat digunakan secara terus menerus, contohnya yaitu energi matahari, pasang surut air laut, udara.

Salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber daya dari pertambangan. Sebenarnya bukan tidak dapat diperbarui, namun untuk perbaruan barang tambang pada umumnya membutuhkan waktu yang sangat lama yang tidak sesuai dengan jangkauan umur manusia. Perbaruan barang tambang memerlukan waktu hingga jutaan tahun, sehingga termasuk dalam kategori sumber daya yang tidak dapat diperbarui.
Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, minyak dan gas). Salah satu dari sekian banyak barang dan produksi pertambangan yaitu gas alam (Nature Gas).
Gas alam dewasa ini telah menjadi sumber energi alternatif yang banyak digunakan oleh masyarakat dunia untuk berbagai keperluan, baik untuk perumahan, komersial maupun industri. Dari tahun ke tahun penggunaan gas alam selalu meningkat. Hal ini karena banyaknya keuntungan yang didapat dari penggunaan gas alam dibanding dengan sumber energi lain. Energi yang dihasilkan gas alam lebih efisien. Tidak seperti halnya dengan minyak bumi dan batu bara, penggunaannya jauh lebih bersih dan sangat ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan. Disamping itu, gas alam juga mempunyai beberapa keunggulan lain, seperti tidak berwarna, tidak berbau, tidak korosif dan tidak beracun.

Secara garis besar pemanfaatan gas alam dibagi atas 3 kelompok yaitu :

1. Gas alam sebagai bahan bakar

Antara lain sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Gas/Uap, bahan bakar industri ringan, menengah dan berat, bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV), sebagai gas kota untuk kebutuhan rumah tangga hotel, restoran dan sebagainya.

Gas alam terkompresi (Compressed natural gas, CNG) adalah alternatif bahan bakar selain bensin atau solar. Di Indonesia, kita mengenal CNG sebagai bahan bakar gas (BBG). Bahan bakar ini dianggap lebih ‘bersih’ bila dibandingkan dengan dua bahan bakar minyak karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam.

LPG (liquified petroleum gas), adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair. Komponennya didominasi propana (C3H8) dan butana (C4H10). Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:

1. Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
2. Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
3. Gas dikirimkan sebagai cairan yang bertekanan di dalam tangki atau silinder.
4. Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat.
5. Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati daerah yang rendah.

Penggunaan Elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar alat dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur, Elpiji juga cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor walaupun mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu.

Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran. Pada awalnya, gas elpiji tidak berbau, tapi bila demikian akan sulit dideteksi apabila terjadi kebocoran pada tabung gas. Menyadari itu Pertamina menambahkan gas mercaptan, yang baunya khas dan menusuk hidung. Langkah itu sangat berguna untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas.

2. Gas alam sebagai bahan baku

Antara lain bahan baku pabrik pupuk, petrokimia, metanol, bahan baku plastik LDPE (low density polyethylene), LLDPE = linear low density polyethylene, HDPE (high density polyethylen), PE (poly ethylene), PVC (poly vinyl chloride), C3 dan C4-nya untuk LPG, CO2-nya untuk soft drink, dry ice pengawet makanan, hujan buatan, industri besi tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan.

3. Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor

Gas alam yang paling besar digunakan untuk komoditas ekspor di dunia yaitu LNG (Liquified Natural Gas) atau gas alam cair.

Gas alam cair Liquefied Natural Gas (LNG) adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus. LNG memiliki isi sekitar 1/640 dari gas alam pada Suhu dan Tekanan Standar, membuatnya lebih hemat untuk ditransportasi jarak jauh di mana jalur pipa tidak ada. Ketika memindahkan gas alam dengan jalur pipa tidak memungkinkan atau tidak ekonomis, dia dapat ditransportasi oleh kendaraan LNG. Dibandingkan dengan minyak mentah, pasar gas alam cair kecil namun matang.

Teknologi mutakhir juga telah dapat memanfaatkan gas alam untuk air conditioner (AC), seperti yang digunakan di bandara Bangkok, Thailand dan beberapa bangunan gedung perguruan tinggi di Australia.

Sumber:

GPSA Engineering Data Book (Gas Processors Suppliers Association) 12th edition (Year 2004)

dari sini kita bisa mengetahui bahwa apa yang telah kita limpahkan kuasanya kepada orang-orang asing ini adalah kelimpahan alam yang sebenarnya terbatas dan sangat vital pemanfaatannya untuk kehidupan dan kesejahteraan bangsa ini….

29 Mar 2010, 12:47am
by verry apriansyah(umby 09061046)


saya setuju pak kalau PTDES di dirikan di desa karna bisa membantu masyarakat desa agar masyrakat tahu bagaimana cara mengelolah dan memanfaatkan SDA yang ada di desa mereka sehingga mereka tidak merusak alam di tempat tinggal mereka..
dengan ada nya PTDES ini bisa memberi ilmu bagi mereka terutama bisa memajukan perekonomian di desa mereka..saya dukung idenya bapak dengan mendirikan PTDES di desa..

29 Mar 2010, 1:01am
by agnes vita agustina


terimakasih kpd bpk awan yang telah memberikan kesempatan kpd kami.

mf saya kurang sependapat dengan mas pandu,bahwa bpk soeharto pada saat menjabat sbg presiden RI pernah memperoleh penghargaan internasional atas keberhasilan negara tersebut dalam produksi bahan pangan dan keluarga berencana .sebagai negara yang pernah menjadi pengimpor beras terbesar di dunia ,dan indonesia berhasil mencapai swasembada beras pd pertengahan 1980an.walaupun perekonomian indonesia saat ini sangat memprihatinkan.kenapa ini ?????padahal perekonomian indonesia pada dekade 1960an dan awal dekade 1990an hampir semua indikator menunjukan bahwa perbaikan yang terjadi di antara pertengahan taun-taun tersebut sangat besar jumlahnya dan hampir semua sektor perekonomian mencapai prestasi yang meyakinkan.
saya tertarik dengan kata-kata ini”INDONESIA KAYA TETAPI MISKIN”indonesia yang pernah menjabat sebagai gudang beras terbesar TAPI sekarang banyak kasus busung lapar lah ada lagi gizi buruk ,,aneh-aneh aj.lantas kemana perginya beras2 itu.
untuk itu saya setuju dengan di adakanya/di selenggarakanya “perguruan tinggi desa(PTDes) “sebenarnya orang-orang di indonesia itu sama,cuma yang membedakan itu tempatnya di kota sama di desa…kehidupan dikota dgn di desa sangat berbeda jauh,,orang yang mau pintarpun harus pargi ke kota.dan cara berfikir orang kota jg berbeda dgn orang desa,,mungkin dengan di adakanya PTdes bisa mengubah cara berfikir dan cara pandang masyarakat desa YANG PENTING KENYANG tetapi mereka tdk memfikirkan kesehatan maupun pendidikan karena menurut mereka semua itu tdk pntng mungkin hanya 15 % saja yg mengatakan itu penting,yyyyy wlwpn mereka blg pentng tapi kendala pertama itu UANG,,
MUNGKIN DENGAN ADANYA PROGRAM PTDes AKAN MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN WARGA-WARGA khususnya YANG ADA DI DESA yaitu DALAM SEGI PENDIDIKAN MAUPUN KESEHATAN DLL.

29 Mar 2010, 1:09am
by efi hikmawati (08051047)


Menurut saya memang benar apa yang dikatakan bapak tentang seseorang yang telah di didik di perguruan tinggi lebih senang tinggal di kota daripada bekerja di desanya sendiri,tapi misalnya ditiap desa didirikan PTdes,belum tentu juga bisa mengubah keadaan karena pemikiran atau pandangan orang-orang yang pernah saya tanya tentang PTdes masih dipandang sebelah mata. Lebih baik kuliah di kota dan bekerja disana agar dipandang waaah oleh masyarakat desa,sebenarnya PR utama dan pertama untuk kita semua adalah bagaimana mengubah paradigm tersebut .setelah itu baru memperbaiki sistemnya.kalau dua-duanya bisa dipraktekkan tentu masyarakat desa bisa lebih maju daripada yang di kota,karena wilayah di desa lebih kaya SDA nya.dan kita perlu bekerja keras untuk mewujudkannya apalagi pemerintah pusat masih kurang perduli dengan wilayah-wilayah di desa

29 Mar 2010, 1:12am
by udi setiawan(umby 09061056)


Merealisasikan PTDes adalah suatu ide sekaligus solusi yg brilian melihat situasi bangsa kita saat ini yang bermasalah dengan yg namanya pemerataan.Baik dlm aspek pendidikan,pembangunan,perekonomian dan bidang2 lainnya
Namun ingat,dibutuhkan SDM yang handal,dukungan penuh masyarakat dan tentunya modal agar terealisasinya PTDes di daerah pedesaan di indonesia.dengan lahirnya SDM berkualitas dari pedesaan,saya yakin perekonomian pedesaan tinggal menunggu waktu kebangkitannya.ingat,selama ini dasar ekonomi kita selama ini datangnya dari limpahan kekayaan alam yg ada di pedesaan yang sayangnya selama ini di eksploitasi oleh pihak luar.sementara rakyat desa yg empunya hanya bisa jd kuli dan penonton di rumah sendiri.
saya yakin bila PTDes ini terealisasi,maka rakyat pedesaan mampu mandiri,berdikari dan menikmati kekayaan alam pedesaan yang memang hak mereka.saya mendukung 101 %.

Assallamuakum
Terimakasih atas ijin bapak awan untuk critical review saya…
Pada dasarny saya setuju sekali dengan ide bapak untuk mendirikan PTDes(perguruan Tinggi Desa) krn dgn diadakany PTDes maka masyarakat desa yg kurang mampu dapat mengenyam pendidikan yg lebih tinggi akan segera terwujud.
Dengan diadakany PTDes maka biaya perkuliahan akan sangat terjangkau oleh masyarakat desa yg pd umumny tingkat perekonomiany rendah,jangankan untuk menlanjutkan sekolah dapat makan 3 kali sehari saja mereka sudah bersyukur.
Semoga PTDes akan segera terlealisasi dan masyarakat desa pada khususny dapat bersekolah lg untuk mencapai cita-cita mereka untuk membangun desany agar lebih maju dan dapat mengolah sumber daya alam yg ada sehingga tidak perlu jauh jauh keluar negri untuk meningkatkan taraf kehidupan,dan sumber daya alam kita jg tidak dikuasai oleh pihak asing.
Semoga cita-cita dapat segera terwujud.
Terimakasih
Wasallam.

29 Mar 2010, 2:38am
by agnes vita agustina(09051022)


MF…saya kurang sependapat dengan saudara pandu,soal di mulainya krisis monetar pada saat kepemimpina bpk soeharto,pada saat itu telah terjadi kesalahan menejemen ekonomi yang terjadi selama satu dekade di indonesia yang telah menyebabkan suatu tingkat kebangkrutan ekonomi yang jarang ada tandinganya dalam sejarah moderen,yang perlu di ketahui bahwa bpk soeharto pernah memperoleh penghargaan internasional atas keberhasilan negara dalam produksi bahan pangan dan adanya keluarga berencana danpernah menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia dan hampir semua sektor perekonomian mencapai prestasi yang meyakinkan,itu indonesi yang dulu beda sama yang sekarang. INDONESIA ADALAH NEGARA BERKEMBANG ,berkembang enggak menurun iya.ada 1 lg statusnya INDONESIA NEGARA YANG KAYA AKAN KEKAYAAN ALAM tp ada yang busung lapar ad yang gizi buruk,,,SUNGGUH KREATIF,,
kemana perginya beras2 itu,,hebatnya sekarang sawah-sawah yang di gunakan untuk memproduksi padi di sulap menjadi gedung-gedung pencakar langit..lantas kalo itu semua di sulap kita semua mau makan apa dong???

kalo soal PTDes saya setuju banget,mudah-mudah dengan di adakanya program ini bisa mengubah cara berfikir dan cara pandang masyarakat desa,,ada slogan orang desa YANG PENTING KENYANG,,,yang di sayangkan mereka tidak memikirkan itu sehat atau tdk,yang begitu penting aj sprti kesehatan tidak di permasalahkan asalkan kenyang apalagi sampai memikirkan pendidikan..buat orang-orang yang di desa ,sekolah itu hanya buat orang-orang yang kaya,,padahal orang-orang yang menjadi pejabat bahkan presiden sekalipun asalnya jg dari desa,,kendala mereka hanya 1 yaitu UANG,apalagi mereka hidup di jaman modern seperti ini boro-boro mikirin sekolah bisa makan satu kali sehari aja udah syukur..
mudah-mudahan dengan diadakanya PERGURUAN TINGGI DESA (PTDes)dapat mengubah kehidupan masyarakat desa menjadi lebih baik ,serta mensejahterakan masyarakat desa dalam segi pendidikan maupun kesehat dll..

29 Mar 2010, 3:42am
by wahid (09051024)


Saya setuju dengan adannya PTDS di desa.
Saya setuju bukan tanpa alasan.
Alasan saya adalah dengan adanya PTDS dapat mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat desa kepada masyarakat kota..soalnya masyarakat desa telah belajar di PTDS bahkan mereka dapat langsung mempraktekannya langsung di sekitar mereka(daerah) yang belum tentu di dapat dan di ajarkan di kota.oleh karena itu saya mendukung adannya PTDS di desa pak.
Maaf pak tapi saya ada satu masukan,begini pak PTDS itu jangan sampai di bawah standar.maksudnya kualitasnya jgn sampai jauh dari standar kota agar masyarakat desa mau tetep di desa krn saya takut akan terjadi sesuatu yang dapat merugikan desa mereka sendiri,seperti kata bapak orang yang di desa ke kota bisa lupa pada desa yang telah menghidupi mereka. itu ajah pak.
Makasih……

29 Mar 2010, 5:05am
by Reni widiyanti


Saya setuju dengan pendapat mengenai akan didirikannya PT Des pada ruang lingkup pedesaan.
Tetapi,masalahnya adalah bagaimana kita harus merombak pemikiran kaum pedesaan yang belum dapat diajak berfikir kritis mengenai rencana pengembangan dan pembangunan desa mereka.pemikiran mereka yang masih beranggapan bahwa menjadi TKI atau ikut urbansasi akan lebih menjanjikan kehidupan mereka.
Sebaiknya,masyarakat pedesaan diberi penyuluhan mengenai pentingnya pendidikan pada era global dan era persaingan dewasa ini.
Masalah ynag lain adalah adanya image yang sudah tertanam pada masyarakat desa bahwa biaya pendidikan ‘mahal’.Sedangkan masyarakat pedesaan taraf hidupnya sebagian masih belum baik.kaum pedesaan juga berfikir mengenai biaya pendidikan yang melambung tinggi.jangankan untuk menginjak bangku kuliah,untuk biaya sekolah SMP saja masih banyak yang berfikir panjang.
Maka dari itu,tugas lain PTDes adalah berusaha meminimalkan biaya pendidikan yang mana dikatakan tadi bahwa biaya berasal dari APBD dan dari LSM maupun lembaga yang lain.
Sehingga PTDes ini dapat menjelma menjadi perguruan tinggi yang berbasis pada desa,tetapi tidak kalah besaig dengan pergurun tingggi di kota.
Yang harus diajarkan pada PTDes ini,selain pembelajaran mengenai manajemen desa,juga perlu diajarkan mengenai cara mengolah tanah dan cara penanganan lepas panen sampai nanti dapat dihasilkan suatu produk yang memiliki daya jual lebih tinggi.
Mengingat peluang kerja yang sudah semakin sempit.maka perlu juga diberikan pembelajaran mengenai kewirausahaan yang berbobot,dapat menyerap lapangan kerja,juga mampu bersaing daam bidang pengolahan SDA yang ada di desa.

29 Mar 2010, 6:16am
by Setyo Yanua chandra


saya berpendapat bahwasannya,saya sependapat,kalau orang desa memang menjadi objek,dimana baik SDA sangat bagus untuk kedepan…misalnya ladang sawah,maupun perkebunan dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara…tetapi dari sudut pandang itu sendiri,,masyarakat desa masih awam tentang bagaimna mengolah maupun mengatur hal itu..maka dari itiu PT DES sangat perlu sekali..sehimgga mewujudkan ke arah IPTEK seiring berkembangnya Globalisasi.yang mana dalam wacana terakhir perdagangan bebas yang belum terkendali masuk ke indonesia…nah itu menjadi PR besar buat kita semuanya…semoga tep sukses selalu buat PT des……

29 Mar 2010, 10:36pm
by anis hidayah 08051012 Mnj


Pertama – tama saya ingin mengucapkan selamat atas terbitnya buku hasil karya pak awan, semoga apa yang terkandung di dalamnya benar2 bermanfaat dan terwujud di kehidupan masyarakat mendatang.amien… awalnya setelah mengikuti kuliah untuk pertama kalinya bersama pak awan yang saya rasakan begitu dendamnya saya dengan keadaan Negara tempat saya hidup selama ini. Betapa muaknya saya dengan permainan yang sedang terjadi saat ini. Tapi begitu saya pikirkan dan saya renungkan lagi rasanya sungguh tidak adilnya diri saya jika saya juga ikut memojokkan nama “Indonesia” yang lagi-lagi minus di hadapan warga negaranya sendiri. Berkali-kali yang muncul kata2 yang menyesakkan dan penyesalan dari mulut setiap orang yang makin hari makin pinter aja baca keadaan&merasakan apa yang mereka alami setelah mereka ketahui bahwa mereka tinggal di tempat yang amat menyakitkan. Padahal perlu kita ketahui bahwa dalam agama jodoh, rizqi dan kematian merupakan ketentuan Alloh,swt. Menurut saya apa yang kita miliki saat ini adalah rizqi yang telah dititipkan Alloh kepada kita dan tidak semestinya kita menghinanya juga, karena sesuatu yang sudah dititipkan pada kita ini merupakan sesuatu yang pantas untuk kita jaga keberadaannya. Ketika kita sadar ternyata kita hidup alam keadaan seperti ini bukan lagi cacian dan penyesalan lagi yang kita butuhkan tapi justru sesuatu yang mampu mengangkat diri kita untuk tetap bisa bertahan, menyerang dan berkembang. Toh menyesali dan mencaci maki tak akan ada menfaatnya dan tidak akan mengubah keadaan yang telah terlanjur terjadi lebih dulu. Karena bumi itu berputar dan waktu juga berjalan tak mungkin kita kembali ke masa lampau untuk mengubah yang telah terjadi. Betul bukan??? Saya rasa ibaratnya suatu permainan sepak bola “Indonesia” masih bisa mengubah strategi perminannya sehingga “Indonesia” bisa berbalik menyerang dan mendapatkan kemenangan. Amien….saya rasa itu saja yang saya sampaikan, manakala ada sesuatu yang menyakitkan&kesalahan itu tak luput di sebabkan Karena saya sedang dalam proses belajar.sekian dan terima kasih wasalam…
Salm saya Anis Hidayah mahasiswa UMBY mnj’08

29 Mar 2010, 10:39pm
by Rina Puji L (UMBY Manajemen/09051086)


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Langsung saja, setelah PTDes sekiranya dapat diterima oleh para warga, PTDes harus bisa menjaga hubungan PTDes dengan para warga tersebut. Tentunya PTDes tidak mau hasil kerja yang selama ini telah dibangun dengan susah payah ternyata hasilnya kurang memuaskan. Pada awalnya PTDes ini banyak yang mengikuti. Hal ini sering sekali terjadi karena para warga didorong oleh rasa keingintahuannyaterhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh PTDes. Akan tetapi, setelah agak lama para warga terkadang juga mulai bosan karena telah mengetahui kegiatan seperti apa saja yang dilakukan oleh PTDes. Tentunya PTDes tidak mau kan hal ini sampai terjadi, maka PTDes harus bisa kreatif dan inovatif dalam melakukan pendidikannya.
Sekarang saya ingin mengutarakan beberapa unek-unek ehm…. ide-ide lah bagusnya.
Didalam pendidikan PT Des terdapat pengenalan dan pemraktekan (ealah bahasane ) tentang teknologi – teknologi yang sekarangini semakin canggih. Saya ingin para warga dapat menguasai alat-alat tersebut sehingga banyak sumber daya alam yang bisa diolah menjadi suatu barang yang berguna. Namun teknologi – teknologi tersebut pada umumnya banyak yang berasal dari luar negeri. Maka dari itu saya berharap selain menggunakan peralatan – peralatanmodern seperti itu, PT Des juga harus mendorong kreatifitas para warga untuk membuat alat – alat sederahana yang bisa digunakan untuk mengolah sumber daya alam yang ada. Dan jangan lupa untuk mematenkan alat-alat yang telah dibuat tersebut.
Kemudian, kita juga serimg kali menganggap bahwa setumpukan sampah itu sudah tidak bisa diolah lagi sehingga kita sering kali membakarnya. Namun ternyata kita bisa salah, mungkin dari setumpukan sampah itu masih bisa lagi dibuat berbagi macam kerajinan yang nantinya akan menghasilkan uang. Untuk itu saya meminta pada PT Des untuk mengajarkan hal tersebut. Kegiatan tersebut sebenarnya bisa membuat para warga hidup secara mandiri. Dengan demikian para warga tidak akan tergantung pada orang lain dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Untuk saran yang terakhir ini mungkin memang lumayan sulit dilakukan. Saya ingin PT Des bisa menyosialisasikan tentang “cinta produk dalam negri”. Hal ini memang lumayan sulit karena kebanyakan produk dari luar negeri biasanya lebih bagus atau lebih murah sehingga kita cenderung untuk membeli produk dari luar negeri. Akan tetapi hal ini justru malah mematikan produk – produk dalam negeri. Jika masih belum bisa mencintai,membeli,menggunakan produk dalam negeri, maka perkembangan dan perubahan itu masih sulit untuk diwujudkan. Marilah bersama – sama mencintai produk dala negeri dan menjaga produk dalam negeri agar tidak dibajak oleh negara lain.
Mungkin ini saja dulu coment selanjutnya mohon ditunggu. Saya mohon maaf bila ada hal – hal yang kurang berkenan. Semoga ini bisa menjadi inspirasi untuk PT Des. Terima kasih telah membaca coment saya. PT Des, salam perubahan!!!
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

29 Mar 2010, 10:47pm
by nova .s. haryadi (09051032)


lemah”y penguasaan pendidikan pada masyrakat desa bukanlah semata-mata kesalahan dari masyarakatnya,
hanya saja kondisi dan keadaan lah yang menjadikan hal itu.
kurangnya perhatian,keterbatasan sarana dan prasarana yang mencangkup desa. padahal jika di tinjau dari segi SDA y pusat terdapat potensi SDA yg banyak adalah di desa.
untuk itu memang sangat diperlukan adanya pengembanagan hal semacam ini
(PTDES) untuk meningkatkan potensi yang ada baik dari SDA maupun SDM……..

(manajemen)

29 Mar 2010, 10:58pm
by Irvan widiantoro(09051023)


Saya setuju pak.
PTDS itu… suatu inovasi yang sangat bagus pak,apalagi buat orang-orang desa.. soalnya mereka tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota buat belajar ,kan ada PTDS.
Apalagi kalau PTDSnya kualitas infrastrukturnya tidak kalah jauh dengan kota pasti orang-orang desa akan lebih memilih di PTDS dan mereka bisa belajar banyak di sana dan sekaligus bisa mempraktekan langsung di daerahnya tersebut,sedangkan di kota memeng di ajarkan tapi belum tentu langsung mempraktekannya.
Oleh karena itu saya setuju dengan adanya PTDS pak..

29 Mar 2010, 11:05pm
by wiwik setyowati umby mnj 09051015


Pendidikan di Indonesia memang belum merata sampai pelosok desa.Hal ini terjadi karena pemerintah pusat lebih fokus pada perkotaan.Itu dapat dilihat dari tingkat pendidikan didesa yang masih sangat rendah.Masyarakat desa umumnya masih berfikir untuk apa bersekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya mereka lebih memilih menikah dalam usia yang masih muda.Maaf,jika ada yang tidak sependapat.Tetapi,memang masih banyak ditemukan anak usia sekolah yang sudah menikah.Itu menandakan masyarakat pedesanan kurang memahami arti pentingnya pendidikan buat dirinya sendiri maupun buat orang lain.

Memang benar sumber kekayaan di Indonesia semua terdapat didesa.Jika tidak ada orang desa siapa yang akan mengolah sumber daya alam didesa yang masyarakat kota sangat membutuhkannya,contoh:padi.Untuk mengolah sumber daya alam dibutuhkan kemampuan atau ketrampilan yang memadai,namun keterbatasan masyarakat desa dalam mengolah sumber daya alam tersebut pemerintah harus memberikan penyuluhan/pendidikan.

Menurut saya jika memang akan didirikan sebuah PTDes(Perguruan Tinggi desa) saya sangat setuju,karena pemerintah tidak boleh tebang pilih dalam menyelenggarakan pendidikan.Jika masyarakat desa mampu dan handal dlam mengolah sumber daya alam didaerahnya sendiri,maka masyarakat akan mandiri dan tidak tergantung dengan orang kota.Dan anak muda yang ada didesa tidak akan kekota jika desa mereka maju.Seperti slogan Pak Bibit Guberur Jateng”Bali deso mbangun deso”.

aslamualaikum wr.wb,
saya adlah damar budi sasono(09051001)seorang mahasiswa fakultas ekonomi prodi management ankatan 09.
INDONESIA….adlah negara besar dengan berbagai kultur dan budaya didalamnya, dimana banyak suku-suku dan berbagai macam budaya dan adat istiadat yang mendarah daging di setiap masarakat, adpun demikian cenderung terbalik dengan realita yang ada kususmya mengenai hal masalah perekonomian di indonesia….dimana banyak pihak yang luapa akan hasil dan sesuatu dimana asal mula dia berada…contohnya banyak oknum yang anty dan bahkan melupakan sumber dari sumber sarat dan ketentuan ekonomi itu berada adalah desa…karena pedesaan adalah sektor nonteknis penyokong kemjuan suatu wilayah.
menegenai petdes…perguruan tinggi desa…yanag menurut rencana akan diprakasai sekra, organisasi yang di rintis oleh oleh bapak awan santosa….saya sangat sangat setuju dikarenakan apa? banyak poetnsi terpendam yang didalamnya terdapat para pemikir2 yang kelak akan menjadi seorang yang berguna bagi nusa dan bangsa,tentu sangat disayangkan sekali apabila potensi tersebut terbuang dengan percuma dikarenakan masalah biaya… yang sebenarnya masih bisa ditekan lagi apabila ada oknum atau pemerintah yang pepduli akan kondisi tersebut.
saya harap dengan berdirinya PTDS semua masalah yg dilematis yg mengakibatkan polemik dikalangan pedesaan kususnya kalangan tidak mampu…mampu mengenyam pendidikan hingga strata teratas di negri ini. ibaratnya menemukan atau menggali berlian yang hilang…untuk dapat dimanfaatkan untuk dapat merubah tingkat ekonomi yang menemukanya.
dg demikian masrakat desa akan mampu bersaing dengan masarakat perkotaan yg notabenya masarakat yang mampu akan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari masarakt desa untuk membangun dan menghasilkan buah karya yg dapat dimanfaatkan oleh semua pihak.
tentunya untuk mewujudkan haldemikian itu tidak semudah membalikkan telapak tangan…banyak faktor-fakto yg menghambat akn berdirinya PTDS
1.biaya
2.oknum
3.pangajar
BIAYA…adalah hal yang tidak dapat dipungkiri adl faktor utama dalam setiap pelaksanann program atau rencana…tanpa adanya modal dan kemampuan finansial yang cukup segala sesuatu akan berjalan dengan lamban bahkan tidak mampu berjalan
OKNUM…tidak dapat di pungkiri lagi untuk dapat melaksanakan niat baik tentunya akan banyak oknum yng tdk suka akan hal tersebut dikarenakan mata pencaharian(pungli) sebgaimana yang tersebar di banyak perguruan tinggi negri atau swasta terancam akn keberadaan PTDS ini,mereka akan memakai berbagai cara untuk menggagalkan program ini.
PENGAJAR… istilah pahlawan tanpa tanda jasa sepertinya mulai luntur dikalangan staf pengajar dewasa ini, mereka tdk akan maw mendedikasikan ilmunya tanpa biaya yg setimpal dengan pekerjaannya.
sekian dari saya….kurang lebihnya mohonmaaf karena kesempurnaan hanyalah milik sang maha.
wasslamualaikumwr,wb

30 Mar 2010, 8:36am
by olavio ribeiro belo


saya setuju atas opini bapak yang ingin mengembangkan sebuah desa dengan membuka perguruan tinggi desa (PTDes)..
Namun saya kurang menjamin bahwa apa yang bapak lakukan nanti akan mengalami kesuksesan…sebab,kita melihat begitu banyak generasi penerus yang sekarang mengalami perubahan kehidupan (pergaulan) yang sangat signifikan…..
hal itu disebabkan karena mereka berasumsi bahwa kehidupan Metropolitan (kota) memberikan dampak positif yang baik bagi masa depan mereka…
kebanyakan masyarakat desa khususnya remaja masih mengandalkan gengsi,karena mungkin bagi mereka tinggal di Desa tidak membuat mereka bertumbuh sesuai IPTEk….apalagi di kota yang identik dengan gedung2 yg glamour dan pola kehidupan yg beda…membuat mereka lebih cenderung pindah ke Kota…
kita juga mengetahui..ada beberapa perguruan tinggi yang telah merambah ke Desa,namun banyak yang lebih memilih perguruan tinggi di pusat kota karena mereka beranggapan bahwa pada dasarnya mutu dan kualitas belajar mengajar sangat baik…
apalagi di kota merupakan pusat perhatian dan sorotan dari berbagai kalangan,…sehinggan pihak dari perguaruan tersebut akan membuat berbagai macam upaya untuk menomorsatukan perguruan tinggi mereka….dan sekarang kebanyakan perguruan tinggi dikenal karena salah satunya yaitu letaknya strategis (dipusat kota) yang lebih memudahkan orang2 untuk mengasa kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman…
sehingga kecil kemungkinan PTDes akan sukses..
semoga saja upaya yang akan bapak inginkan akan berhasil….
Amin…

30 Mar 2010, 11:15am
by Brzinski Francisco Lopes de Carvalho (Akuntansi UMBY/09061008)


Saya setuju dengan adanya PTDES karena dapat membantu masyarakat desa dalam berbagai hal. Misalnya: pendidkan, banyak orang beranggapan bahwa pemikiran orang desa jauh tertinggal dibandingkan orang kota, tetapi kita jangan beranggapan seperti itu karena semua manusia itu sama yaitu diberikan akal oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk berfikir dan berusaha. oleh karena itu dengan adanya PTDES dapat membantu masyarakat desa untuk bersaing secara sehat dengan masyarakat kota, merubah pola pikir masyarakat desa yang cenderung kolot menjadi lebih moderen.
terima kasih……….

30 Mar 2010, 11:46am
by Prawira Aros Purnama (Akuntansi UMBY/09061014)


Assalamualaikum wr. wb.
To the point aja yah Pak…….
Saya setuju sekali dengan adanya PTDes, karena sebagian besar masyarakat pedesaan sangat membutuhkan pendidikan yg lebih tinggi lg, agar masyarakat desa yg sudah lulus SMA di desa tersebut, mereka tidak lagi keluar daerah untuk melanjutkan studinya. Dengan begitu pemikiran mereka akan lebih maju lg seperti masyarakat yg ada di kota pada umumnya. Apalagi kalau didukung dengan staf pengajar yg profesional dan juga fasilitas yg memadai, juga suasana kampus yg bersih dan sejuk.
Tetapi menurut saya, PTDes harus dibangun di tempat2 yg lebih terpencil lagi, contohnya seperti pulau-pulau.
Sekian dan terima kasih……..

Menurut saya, PTdes memang perlu diperhatikan lagi oleh pemerintah. Karena saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang berada di pusat kota. Dengan didirikannya di pedesaan, tentunya juga dapat memotivasi warga desa untuk maju dan berkembang dengan menomor satukan pendidikan. Seperti yang kita lihat saat ini banyak warga desa yang lulusan smp hanya minat melanjutkan ke SMK, dengan harapan bahwa lulusan SMK bisa langsung bekerja tanpa kuliah lagi.

Padahal persepsi tersebut sangatlah salah, karena banyak pekerjaan yang incomenya bisa memenuhi kehidupan kita itu yang dibutuhkan adalah minimal D3.

Selain itu keuntungan dari PTdes adalah suasana kampus lebih tenang, karena didirikan di daerah pedesaan. Menurut saya, suasana kampus yang tenang atau tidak berisik bisa menunjang kondisi belajar yang lebih kondusif. Dan yang terpenting dari PTdes ini adalah bisa memberikan dampak yang positif bagi warga desa di sekitarnya dengan melakukan kegiatan kemahasiswaan yang lebih bermanfaat.

30 Mar 2010, 9:09pm
by Nur Susila- Akuntansi 2009 (09061035)


Saya setuju dan sependapat dengan ide Bapak. Namun, ada beberapa hal yang sepatutnya tidak luput dari perhatian kita.

Dengan adanya PTDes, jelas ini membuat suatu desa lebih berkembang dan membuat suatu desa tersebut makmur. Akan tetapi, tidak semua anak desa mau menetap tanpa berkelana ke kota. Meraka jauh lebih memilih kota dari pada desa yang lebih nyaman. Karena mereka beranggapan bahwa di kota jauh lebih baik dari pada di desa. Kualitas pendidikan yang lebih baik. Dengan pengalaman serta pergaulan yang mungkin meluas serta tingkat gengsi yang tinggi memaksa mereka untuk lebih memilih kota.

Paradigma inilah yang menjadi PR besar bagi pemerintah jika ingin mewujudkan adanya PTDes.

Selain itu. Harusnya ditingkatkan keterampilan. Yang menjadi penyebab banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia. Karena mayoritas penduduk Indonesia mencari lapangan pekerjaan yang terbatas dengan persaingan yang ketat dari pada menciptakan lapagan pekerjaan yang dapat mengurangi jumlah pengangguran. Sehingga, perlunya keterampilan dan beberapa cara untuk memancing ide kreatif untuk mewujudkan adanya lapangan pekerjaan dari mereka sendiri.

Ass.wr.wb Pak Awan

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk mereview permasalahan PTDes ini.

Untuk gagasan yg bapak kemukakan tentunya saya sangat setuju sekali. PTDes punya tujuan positif untuk kemajuan mayarakat desa. Seiring kemajuan zaman dan makin kompetitif nya Perguruan tinggi di kota, bukan hal wajar lagi dengan semakin tertinggalnya iptek masyarakat desa. Apalagi masyarakat desa yg pada umumnya tidak mengeyam pendidikan sama sekali.

Untuk itu sudah selayaknya ide-ide atau gagasan-gagasan seperti yang bapak kemukakan bisa diwujudkan bersama. Saya kira lebih banyak setujunya daripada yang kontranya. Namun apakah ini hanya ide semata ? saya kira kita harus berusaha bisa terwujud, sebelum mereka terdoktrin oleh usahawan dr luar desa mereka yang ingin menguasai dan memanfaatkan kekurangan mereka ( dalam hal ini teringgalnya iptek ).

Mewujudkan sesuatu yang mulia dan berjiwa sosial sperti bapak, saya kira tak bakalan menemui kesulitan berarti :-) . Banyak elemen yang terlibat memang, namun kalau selaras insya Alloh terwujud.
Sudah eranya membangun ekonomi dengan di desa dengan masyarakat desa yang pintar demi kemajuan desa itu sendiri dan negara umumnya.
Desa merupakan SDA yang sangat penting utk menyuplai kebutuhan2an ekonomi dan industri. Karena semua bahan baku semua umumnya berasal dari desa.

Demikian pak awan …smoga bisa direalisasikan.

Salam,

Saep

30 Mar 2010, 10:24pm
by herdanto nugroho


assalamualaikum pak awan.
saya herdanto mahasiswa bapak di mercu buana jogja prodi manajemen 09 no mahasiswa 09051021.

perguruan tinggi di desa tidak kalah dengan perguruan tinggi di kota dari segi kualitas sama saja yag memebedakan hanya TEMPAT.
saya bangga menjadi seorang mahasiswa yg kuliah di perguruan tinggi di desa yang jauh dari polusi udara, walau pun dari segi fasilitas nya masih kurang.

pendidikan tinggi merupakan pintu keluar bagi peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia. Dengan pendidikan tinggi terciptalah manusia-manusia Indonesia yang berkualitas dan berkompeten dibidangnya. Terlepas dari segi positif pendidikan tinggi, hendaknya kita lihat realitas keadaan sosial ekonomi yang terjadi, semenjak krisis ekonomi menghantam negara ini dimana segala bidang kehidupan terasa sulit, Berdasarkan gambaran di atas inilah sepatutnya kita bertanya dalam kapasitas kita sebagai masyarakat maupun sebagai insan pendidikan, bahwa masihkah menempuh pendidikan tinggi mempunyai arti penting di dalam masyarakat? khususnya masyarakat desa

30 Mar 2010, 11:05pm
by fickoh budi utami


Ass….
Saya fickoh budi utami 09051049 manajemen
Trima kasih atas apa yg Bapak sampaikan didalam tulisan Bapak,Sangat berguna bagi saya dan mungkin bagi semua orang yg membaca tulisan bapak ini.Saya ingin menyampaikan bahwasanya pepatah “kacang lupa dalam kulitnya” memang sangat cocok dalam mengandaikan.Sekarang banyak sekali anak2 dari desa yang telah mengenyam pendidikan yang tinggi yaitu sampai perguruan tinggi.Namun hasil yang mereka peroleh itu hanya dimanfaatkan untuk keperluannya sendiri saja.Setelah mendapatkan gelar sarjana mereka langsung beranjak pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yg mereka anggap layak.Namun ia hanya melihat keterpurukan teman-teman sebayanya yang tidak bisa mendapatkan pendidikan seperti dia,tanpa ada rasa untuk membantu dan memajukan desa yang telah membesarkanya.Jika masyarakat didesa mempunyai IPTEK tinggi,,,,,,,,,tidak diragukan maka desa tersebut akan maju.Namun disini ada beberapa hal yang perlu diprhatikan apabila kita memang akan membangun PTDS:
1.kemampuan pengelolaan dan manajemen yang baik
2.kemauan masyarakat untuk membangun
3.kesadaran akan pentingnya pendidikan
Pak,perlu diperhatikan juga jauhkan pembangunan dari oknum2 yang tidak bertanggung jawab jangan sampai ada makelar kasus atau koruptor he he he

30 Mar 2010, 11:09pm
by nelia yohana lolita monteiro


09051040
saya setuju dengan apa yang bapak sampaikan..karena memang dalam kehidupan nyata bahwa orang-orang yang tinggal di kota,hidupnya tergantung dengan orang desa.karena orang-orang desa lah yang mengolah kekayaan-kekayaan alam tersebut.dan apabila PTdes sudah di bangun,maka pastilah mereka lebih mempunyai keahlian untuk meningkatkan dan mengolah kekayaan-kekayaan alam tersebut..selain itu juga orang-orang yang berada di desa tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota untuk menimba ilmu..akan tetapi PTdes itu juga harus mempunyai kualitas yang tinggi dan bermutu..
hanya itu pak yang bisa saya sampaikan,,terimakasih.. ^_^

31 Mar 2010, 1:53am
by devi frahma/08061009akt


Saya setuju dengan adanya PTDS.
andaikan wakil-wakil rakyat yang berkedudukan mempunyai ide-ide seperti ini pasti negara ini tidak runyam seperti ini.
Mereka hanya mementingkan kekuasaan dan materi. Tidak peduli pada kaum menengah ke bawah. Kalau mereka berjiwa sosial pasti akan mempunyai pikiran

“Daripada korupsi lebih baik meningkatkan kualitas bangsa agar bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya”

Lebih baik dana yang mereka tampung, untuk membantu pendidikan dan kesejahteraan rakyat desa.agar rakyat Indonesia tidak terpuruk dan mengalami kemunduran.
kecanggihan teknologi sekarag memudahkan mengetahui seluruh pelosok negeri ini. Akan tetapi, yang menjadi pettanyaan kenapa masih ada daerah yang belum di jamah pemerintah?

Sebagai mahasiswa kita harus berfikir kedepan bagaimana kita mensejahterakan penduduk di Indoneia ini. Sehingga pendidikan Ekonomi Kerakyatan sangat penting di ajarkan di Perguruan Tinggi agar Mahasiswa nantinya jika sudah mapan atau bekerja dan ber kecukupan tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Tetapi pikirkan juga saudara-saudara kita yang butuh belas kasihan kita.

Dengan adanya PTDS semoga rakyat desa dapat mengetahui dunia luar jadi ada niat untuk pemberantasan buta aksara dan akan menambah pengetahuan rakyat desa mengenai dunia.
Tidak ada lagi kebodohan dan menjadi budak Negara lain.

“Nasib bangsa ini di tentukan oleh para generasi penerus bangsa”
maka berikan contoh yang baik pada para generasi penerus.

________”"”"”" MEEEEERRRDEEEKKKKAAAAAA “”"”"”______

Jangan mementingkan hawa napsu saja!!!
Arti Merdeka bukan hanya Merdeka dari jajahan negara lain.
Tetapi kita juga harus Merdeka dari pengaruh Hawa Napsu yg dapat menjerumuskan kita ke hal-hal negatif.
Mulailah dari sekarang!!!
Lihat dan bantu saudara kita yang kesusahan
dukung PTDS bantu memajukan dan mendukung PTDS…..

31 Mar 2010, 2:34am
by novi ermawati, Akt 08


menurut saya. faktor yang membuat kemunduran suatu desa di banding daerah perkotaan adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Kita tidak sepenuhnya menyalahkan mahasiswa. umumnya kaum tua lebih berkuasa dibanding kaum muda. Budaya itu yang masih melekat pada suatu desa. Para kaum tua merasa bahwa dia lebih banyak makan asam garam dari pada anak muda dan Mereka lebih memandang mahasiswa dari universitas ternama lebih pandai dari pada universitas swasta seperti umby. Mayoritas mahasiswa dari universitas kurang ternama tidak bisa ikut ambil bagian dalam pengembangan desa. PTDS mampu membuktikan anggapan di atas tidak benar. Jadi saya setuju dengan bapak, dengan adanya PTDS pola pikir mereka akan dapat maju dan berkembang serta semua dapat ikut berpartisipasi. Daya pikir mereka akan dilatih menciptakan suatu kreativitas dan keterampilan baru yang nantinya dapat dijual guna meningkatkan pendapatan suatu desa.

2 Apr 2010, 8:56pm
by nova riza adhi chandra (09051019)


Saya setuju dengan adanya PTDes. Dengan adanya PTDes dapat menambah kealian para penduduk desa dalam mengelola SDA yang ada di daerah mereka dengan bantuan para pendidik tentunya. PTDes juga dapat membantu para penduduk desa dalam mengenal eknologi yang ada dan selalu berkembang, agar mereka tidak tertinggal dan dapat menguasai teknologi untuk membantu mereka dalam mengelola SDA di daerah mereka. Namun akan memerlukan usaha yang keras untuk mengajak mereka bergabung dalam PTDes karena sebagian besar dari mereka adalah petani, mereka akan lebih memilih bekerja di sawah atau kebun mereka pada siang hari dan beristirahat pada malam hari. Sebaiknya sebelum diadakan PTDes, lebih dahulu dilakukan penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya PTDes ini bersama dengan instansi-instasi yang terkait, seperti LSM dan pemeritah agar mereka mau brgabung dengan PTDes.

3 Apr 2010, 12:22pm
by syafwawan (06330052)


saya sangat setuju dengan diadakanya PTDes karena akan membantu sekali bagi penduduk desa yang ketinggalan akan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi…..

nanti akan lahir pemimpin – pemimpin yang akan membangun desa mereka ,,,,,
yang tadinya sangat tidak mengerti akan apa itu pembangunan perekonomian
baik didesa maupun dikota…..

5 Apr 2010, 10:48am
by Hardi Wibowo (09051014) ME


Assalamu’alaiku wr. Wb
Dilihat dari rantai konsumsi bahan-bahan sandang, pangan, dam papan di Negara kita ini memang awal mula bahan berasal dari Rakyat pedesaan, kita ambil satu contoh bahan pangan, beras dan sayuran (sembako). Bahan- bahan ini asalnya dari masyarakat pedesaan, padi sebagai bibit beras mereka tanam di lahan milik masyarakat Pedesaan, begitupun juga sayurannya.
Tak sedikit modal yang di keluarkan untuk semua itu. Akan tetapi hasil jual yang di dapat saya rasa kurang sesuai dengan apa yang masyarakat desa telah lakukan. Dimana harga jual dari petani sangat murah, saya kadang merasa iba akan hal tersebut, mengingat apabila harga jual melonjak sedikit saja, banyak yang berkeluh kesah, bahkan tak jarang terjadi demonstrasi dimana-mana, menuntut penurunan harga jual sembako. Memang saya mengakui bahwa rakyat Indonesia sebagian besar penduduknya kelas menengah ke bawah (belum sesuai yang di idam-idamkan). Jadi banyak penolakan yang terjadi dimana-mana. Namun apakah tidak di telusuri dahulu apa penyebabnya, tahu-tahu secara tiba-tiba pemerintah justru mengimpor bahan-bahan sembako dari Luar negeri. Disini seharusnya menjadi peluang masyarakat Indonesia untuk bangkit dari rasa ketergantungan. Saya pernah mendengar bahwa Negara kita ini dahulu adalah Macan Asia, dimana justru Indonesia dapat mengekspor hasil Buminya ke Negara-negara tetangga, karena kebutuhan dalam negeri sudah sangat tercukupi. Tapi yang terjadi sekarang…. Apa yang harus kita lakukan??
Saya rasa dengan adanya PTDes di sektor pedesaan ini sangatlah membantu para masyarakat di pedesaan khususnya, dalam menimba teori dan konsep dalam pengembangan potensi diri yang dimiliki oleh masyarakat Pedesaan. Tanpa harus jauh-jauh kekota untuk mengembangkan potensi, nantinya hal yang ditakutkan seperti sepotong kalimat artikel diatas dimana “Banyak anak-anak muda desa yang telah dididik di perguruan tinggi kita tetapi sebagian besar justru menjadi lupa dengan jatidiri dan tugas mulianya untuk kembali membangun desa” yang ada nantinya justru makin berentetnya pengangguran terdidik di negeri ini karena banyak yang bersaing untuk dapat bekerja di perusahaan asing yang katanya memiliki upah kerja tinggi. Lebih parahnya mereka yang berpendidikan justru tidak mengolah milik sendiri. Yang melatarbelakangi itu tadi, karena harga jual hasil desa yang rendah, kebanyakan dari mereka (Masyarakat Pedesaan) lebih memilih untuk bekerja di perusahaan2 asing. Padahal apabila masyarakat Desa dapat mengelola milik sendiri, betapa melimpahnya hasil yang didapat, akan tetapi itu harus didasari dengan konsep dan teori yang benar. Maka dari itu, saya sangat setuju bila PTDes ini diadakan dan segera di realisasikan. Agar masyarakat Pedesaanpun mampu menggunakan teknologi sebagai pengembengan potensi yang dimiliki. Semoga kedepan PTDes ini dapat dan sangat di sambut oleh masyarakat pedesaan kususnya, dan semoga mulai dari hal kecil ini, mulai dari masyarakatnya, Indonesia bisa menjadi Negara Mandiri seperti yang Di idam-idamkan, Terimakasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

6 Apr 2010, 12:29am
by joko agus b.s. (08051020) UMBY


saya mendukung pemikiran bapak….!!
dengan adanya PTDes maka masyarakat dapat mengelola potensi yang ada secara maksimal,dan kesenjangan antar masyarakat pun akan bekurang!!
tetapi bapak pun harus mempertimbangkan masalah biaya,karena biaya yang akan digunakan untuk membambangun PTDes sangat besar,apa lagi dengan keadan perekonomian negara kita sekarang…!!!

6 Apr 2010, 1:16am
by nora kristina


saya setuju2 ja dengan pendapat bapak….

coment selanjut’ya bsk2 lg pak…

6 Apr 2010, 2:51am
by ristin wulansari


Salam pak,,,,
Saya sangat setuju dgn bapak.Apabila di desa akan dibagun Perguruan tinggi desa.Agar orang-orang yang ada di desa tidak hanya berfikir bahwa ia akan berhasil jika bekerja di luar negri,,tapimereka akan berhasil di desa.
Jika masyarakat banyak yg mengenyam bangku perguruan tinggi,,,kualitas pendidikan di desa akan baik dan mereka akan selalu berfikir bagaimana untuk selalu memajukan desanya.

6 Apr 2010, 3:45am
by lisa septiyani(09061024)


assalamualaikum.wr.wb.

Saya Lisa mahasiswi UMBY prodi akuntansi’09.

Tempat yang kaya akan SDA adalah di desa. Banyak orang kota yang memanfaatkan SDA di desa, namun kebanyakan warga desa belum dapat memanfaatkan SDA yang berada di daerah mereka dengan efisien dan efektif karena keterbatasan pemikiran mereka mngenai pemanfaatan SDA dengan maksimal.

Saya setuju dengan pendapat bapak mngenai “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)”. Karena dengan adanya PTDes dapat mningkatkan pemikiran masyarakat desa untuk memanfaatkan SDA yang ada di desa mereka dengan maksimal dan agar mereka tidak tertipu oleh orang yang akan memanfaatkan SDA milik mereka secara berlebihan. Dan dapat mengurangi penbganguran yang sebagian besar berada di desa.

Menurut bapak untuk pendanaan dapat dilakukan dengan melalui APB Des, dana pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM. Kemudian dalam program pembelajarannya dapat bekerjasama dengan berbagai pihak.

Namun bagaimana dengan orang desa tersebut?apakah mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk mensejahterakan desa merka?

Saya adalah orang yang tinggal di desa dan kuliah di UMBY yang menurut saya universitas ini berada di desa karena di sekitar kampus masih terasa suasana desa. Pekerjaan orang tua saya adalah seorang buruh tani tidak tetap. Namun orang tua saya berharap agar anak mereka dapat sukses dan dapat membahagiakan mereka. Maka dari itu saya di beri kesempatan untuk melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Namun orang tua yang berfikir seperti orang tua saya tidak lah banyak karena jika ingin menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi pasti membutuhkan dana yang tidak lah sedikit. Sebenarnya orang tua saya juga tidak memiliki dana yang cukup namun karena mereka ingin anak mereka sukses akhirnya mereka bekerja dengan giat dan dapat menyekolahkan saya sampai ke jenjang ini.

Sebagian besar orang desa memiliki keinginan untuk kuliah namun melihat keadaan ekonomi keluarga mereka yang begitu minim akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk kuliah dan akhirnya mereka memilih untuk bekerja. Dan karena pemikiran orang tua yang terkadang masih “jadul” maka orang tua pun sebagian besar mendukung anaknya untuk bekerja dari pada kuliah karena orang tua mereka beralasan sudah tidak mampu lagi menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan ada orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan anaknya sehingga anaknya hanya mampu bersekolah smapi SD/SMP saja.
Meamang masih ada cara yaitu dengan cara mereka mengikuti sekolah malam namun orang yang berpikir seperti itu tidak lah banyak. Karena sebagian orang pasti beralasan sudah malas untuk bersekolah kembali.

Jadi menurut saya memang bagus bila dalam desa ada PTDes namun apakah mereka mau untuk bersekolah kembali?

Nah saya ingin bertanya pada bapak :
Bagaimana cara bapak untuk membujuk mereka agar mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau masuk ke PTDes tersebut jika mereka beralasan sudah tidak mau bersekolah kembali atau tidak memiliki dana yang cukup atau MALAS?

Dan bagaimana menurut pendapat bapak mengenai faktor utama orang tidak mau melanjutjan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi adalah minat mereka yang kurang dan karena keadaan ekonomi mereka??

Terima kasih.

6 Apr 2010, 10:18am
by age candra,MnjmnUMB09


apa kabar semuanya,semoga baik selalu..

Perguruan Tinggi Desa,cukup brilian Pak…karena disamping ada sebuah niat baik yang sangat besar, disitulah kita bisa menambah jumlah potensi untuk lebih bisa memajukan bangsa ini. Dan di sisi lain adalah karena dasar dari Ekonomi Kerakyatan adalah sistem ekonomi yang menekankankan pada dimensi keadilan dalam penguasaan sumberdaya ekonomi, proses produksi dan konsumsi. Kemakmuran rakyat lebih diutamakan daripada kemakmuran orang per orang. Akan tetapi menurut saya ini tidaklah mudah, perlu adanya komitmen yang sangat kuat untuk ini semua. Di lain hal kita tahu bahwa adanya pengaruh yang kuat dari banyak faktor seperti informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya yang membuat orang2 desa hijrah ke kota. Pertanyaanya adalah, apakah mereka siap untuk menerima niat baik kita? Terima kasih..

7 Apr 2010, 4:15am
by Lilik indra cahya (09061057) akuntansi 09


saya sependapat dgn Pak Awan, saya sangat setuju dengan adanya perguruan tinggi di desa karena di desa merupakan tempat yang sangat jarang adanya PTDS & dengan adanya PTDS masyarakat desa dapat senantiasa berkeinginan menyekolahkan tinggi dan mengurangi pengangguran di masyarakat. akan tetapi pemerintah kurang memperhatikan pada soal ini. dengan adanya PTDS akan memajukan kesejahteraan rakyat & negara , semoga PTDS berkembang pesat di Indonesia ini dan tidak ada pengangguran di Indonesia ini. sekian dulu pak komentar saya, semoga pendapat saya yang simpel ini semoga dapat bermanfaat.

Wassalam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 
  • Informasi terbaru

  • Statistik Web

  • baca Juga Tulisan Pembaca

  • Arsip Artikel

  • Ideas