t awan « Ekonomi Kerakyatan

 

 

 

 

 

 

 

Press Release DesaMart

Aksi Simpatik Teatrikal Peringatan Hari Koperasi; Hari Selasa, 12 Juli 2011  pk. 09.30-11.30, Di Depan Gedung Agung, Malioboro, Yogyakarta

 SELAMATKAN INDUSTRI DESA, BANGUN KEMANDIRIAN INDONESIA!

Industri batik rumahan di Gulurejo, Kulon Progo terancam bangkrut, dari 200 pengrajin sekarang tinggal 20 orang saja. Industri kecap desa di Pati pun bernasib serupa, demikian halnya industri rumahan mainan anak di Pandes, Bantul yang kini tinggal diusahakan oleh 5 orang nenek berusia di atas 80 tahun tanpa penerusnya. Tidak banyak lagi industri rumahan sabun, samphoo, susu, garam, saus, coklat, kopi, obat tradisional, konveksi, minuman olahan desa. Sebagian besar telah digantikan oleh dominasi produk pabrikan swasta dari luar desa, bahkan sebagian besar dari luar negeri!

Akibatnya 32 juta warga bangsa hidup dibawah garis kemiskinan, sebagian besar berada di desa, yang tidak lagi mampu menghidupi warganya. Maraklah eksodus ke luar kota-kota besar, bahkan ke luar negeri. Ironis, kekayaan (mineral, air, hutan, kebun, dan energy) desa justru mencampakkan mereka dari tanah airnya. Sebagian besar lahan dan kekayaan desa telah dikeruk dan dikuasai, lagi-lagi oleh pemodal, sebagian besar dari luar negeri! Oleh karena itu, Desamart menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama menyelamatkan industri desa dengan senantiasa mengkreasi, memasarkan, dan memilih produk buatan desa, yang sesuai dengan agenda perjuangan:

        Pertama, menciptakan lapangan kerja di desa; sehingga banyak saudara-saudara kita terselamatkan dari keterpaksaan bekerja di luar negeri yang penuh siksa dan marabahaya, dan kaum muda-mudi dapat memiliki kesempatan mengolah segenap potensi bahan mentah yang tersedia melimpah di desa.

        Kedua, menciptakan lapangan usaha di desa; sehingga warga desa dapat menjadi tuan di tanahnya sendiri, tidak perlu lagi menjadi buruh dan kuli bagi kepentingan korporasi, dan tidak perlu lagi menyulap areal pertanian desa menjadi pabrik, pertambangan, dan perkebunan besar yang dikuasai investor dari dalam dan luar negeri.

        Ketiga, melancarkan sirkulasi modal di desa; sehingga membebaskan desa dan perangkap utang luar negeri, utamanya dari Bank Dunia melalui skim-skim dana bergulirnya, yang sepintas “memberdayakan” namun pada saat yang sama mendorong pengurasan sumber daya alam Indonesia dan penguasaannya oleh segelintir perusahaan swasta besar dari luar negeri.

        Keempat. membebaskan Indonesia dari dominasi produk pabrikan besar; yang sebagian besar berasal dari luar negeri, yang telah lama menghancurkan kemandirian, budaya produksi, pengetahuan tradisional, dan penghidupan jutaan pelaku ekonomi rakyat Indonesia di berbagai sektornya.

        Kelima, membangun kejayaan pasar tradisional dan ritel-ritel lokal; sebagai etalase dan distributor produk desa, serta menghindarkannya dari keperpurukan akibat serbuan pasar modern yang dikuasi pemodal besar, lagi-lagi sebagian besar dari luar negeri.

Pada akhirnya kita semua akan turut serta membebaskan Indonesia dari berbagai bentuk kolonisasi dan penjajahan ekonomi baru, karena hanya itulah syarat bagi kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Merdeka!

 Tertanda,

 Awan Santosa, S.E, M.Sc (Ketua DesaMart / ph: 08161691650), Farisa Ratna Sari (Sekretaris DesaMart) / ph: 085643264286)

Kantor Taman Kuliner K-29, Condong Catur, Sleman www.ekonomikerakyatan.com / www.desamart.co.cc

Hadapi Serbuan Minimarket, UGM Siapkan DesaMart untuk Pedagang Tradisional

Rabu, 22 Juni 2011 18:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA–Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Lembaga Ombudsman Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta mengenalkan konsep Desa Mart.
“Konsep itu diharapkan mampu menjadi solusi bagi para pelaku pasar tradisional untuk menghadapi persaingan dengan pasar modern dan toko retail berjaringan,” kata peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) Universitas Gadjah Mada (UGM) Awan Santosa di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, konsep Desa Mart mengadaptasi konsep koperasi yang arahnya mempertemukan produsen dari desa dengan konsumen dari kota, dengan menawarkan produk yang memiliki daya saing terutama dari segi kualitas, kuantitas, dan harga.
“Produk yang dipasarkan melalui Desa Mart harus memenuhi dua persyaratan, yakni produk subtitusi dari pabrikan dan produk yang dibuat oleh masyarakat ekonomi kecil,” katanya.
Ia mengatakan, konsep koperasi yang diusung Desa Mart akan sejalan dengan program berkesinambungan yang digagas Pustek UGM, yakni perguruan tinggi pasar, sekolah pasar, pasar mandiri, dan bursa koperasi pasar.
“Pengembangan pasar tradisional saat ini harus dilakukan dengan ‘recharacter building’, revitalisasi koperasi pasar, dan pengayaan fungsi pasar,” katanya.
Menurut dia, pengembangan tidak hanya bangunan fisik tetapi juga sumber daya manusia, produk, dan harga.
Pengembangan sumber daya manusia bisa dilakukan dengan pelatihan dan penguatan organisasi melalui sekolah pasar dan perguruan tinggi pasar. “Pengembangan produk dilakukan melalui sentra produksi terpadu agar harga mampu bersaing, di antaranya dengan model pembelian kolektif melalui koperasi,” katanya.
Ketua Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY Ananta Heri Pramono mengatakan, ada yang salah dengan kebijakan pemerintah yang mengatur tentang pasar tradisional dan pasar modern.
Akibatnya, menurut dia, kini banyak pedagang tradisional yang menutup usahanya karena kalah bersaing dengan toko modern berjaringan yang menjamur.
Ia mengatakan, selama setahun ada sekitar 400 pedagang tradisional yang menutup usahanya karena omzetnya terus mengalami penurunan.
“Hal itu perlu disikapi, jangan sampai keberadaan pasar atau toko modern mematikan usaha rakyat,” katanya.

  • Informasi terbaru

  • Statistik Web

  • baca Juga Tulisan Pembaca

  • Arsip Artikel

  • Ideas