Berdasar riset di desa-desa Indonesia ditemukenali masalah mendasar berupa lemahnya penguasaan rakyat desa atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah ini telah lama berimplikasi pada kelambatan inovasi bisnis, kecilnya nilai tambah ekonomi, dan ketergantungan desa pada perantara dari luar desa, pun termasuk perguruan tinggi dan LSM. Keberdikarian dan keahlian orang desa yang dahulu pernah mewujud telah memudar dan berganti oleh dominasi korporasi swasta besar dari luar desa.
Ribuan fakultas di perguruan tinggi se-Indonesia kiranya belum sepenuhnya mampu menjawab akar persoalan ekonomi rakyat desa tersebut. Sedikitnya kisah sukses desa mandiri seakan menjadi pertanda pendidikan tinggi kita yang belum sepenuhnya berorientasi pada keberdikarian desa. Alih-alih itu, jiwa keberdikarian perguruan tinggi justru masih menjadi tanda tanya manakala terjadi penetrasi institusional Bank Dunia dan Pemerintah AS di beberapa perguruan tinggi kita.
Banyak anak-anak muda desa yang telah dididik di perguruan tinggi kita tetapi sebagai besar justru menjadi lupa dengan jatidiri dan tugas mulianya untuk kembali membangun desa. Sebagian mereka bahkan lebih bangga berdasi meski hanya untuk sekedar menjadi buruh korporasi dari luar negeri. Pun sebagian lagi telanjur tercerabut dari akar mereka di desa, namun tak juga mendapat tempat di pasar tenaga kerja, sehingga menambah panjang deret pengangguran terdidik di negeri ini.
Pendidikan kita tak kunjung mampu merombak pola relasi yang timpang antara desa dan kota. Desa dengan segala kekayaannya masih menjadi pemasok yang setia bagi kemakmuran masyarakat kota dengan kontraprestasi yang tidak sepantasnya. Telah begitu banyak hutan dan kebun yang ditumbuhkan, pun tak terhitung lagi jutaan ton aneka mineral dan tambang yang dikeruk dari desa, sementara mayoritas penduduk miskin masih tertinggal di desa, dan marjinalisasi terus terjadi di sana.
Melihat berbagai situasi ini kiranya kita perlu berhitung ulang atas peran perguruan tinggi atas kemajuan desa. Pola relasi yang selama ini terbangun di mana prakarsa transfer iptek selalu datang dari luar desa perlu ditinjau ulang dengan semangat tranformasi kuasa pengetahuan oleh rakyat desa.
Efektifitas proses tersebut sangat ditentukan oleh keberhasilan penguasaan metodologi pengembangan iptek oleh mereka, di mana mereka lah yang akan merancang tata kelola pengetahuan dan pembangunan di wilayah desa. Berdasar latar belakang itulah kami memandang urgensi pengembangan model pendidikan alternatif yang selanjutnya dikemas dalam terminologi Perguruan Tinggi Desa (PTDes).
2. FUNGSI DAN TUJUAN
1) PTDes akan merebut kuasa iptek yang selama ini didominasi oleh elit-elit akademisi di pusat kota bahkan di luar negara, dengan melahirkan tenaga-tenaga ahli produktif desa yang memiliki keahlian spesifik semisal di bidang teknik, usaha, sosial-politik, hukum, dan kesehatan untuk diabdikan sepenuhnya bagi kemajuan dan keberdikarian masyarakat desa. Tugas mulia mereka adalah memobilisasi penggunaan potensi sumber daya domestik desa dengan penguasaan iptek mereka.
2) PTDes akan menjadi media revolusi kebudayaan (kesadaran) dan persemaian keahlian warga desa, semisal dalam inovasi energi berbasis tenaga surya, mikro-hidro, sampah, dan kotoran ternak, sekaligus inkubator pemikiran dan perencanaan tumbuh kembangnya bisnis koperasi, ekonomi rakyat desa, trading house, klinik kesehatan, keuangan mikro, wisata desa, industri rumah tangga dan industri desa, serta berbagai inovasi berbasis iptek lainnya.
3) PTDes yang dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh masyarakat desa akan menjadi konsultan bagi rencana pembangunan desa dan berbagai program (project) yang masuk ke desa. PTDes akan membantu mengarahkan proses transformasi desa melalui rancang bangun pemajuan dan pemandirian desa selama kurun waktu 5-10 tahun ke depan.
4) PTDes akan mendisain kurikulum, merekrut tenaga pengajar dari dalam dan luar desa, serta menyelenggarakan bermacam pendidikan dan pelatihan aplikasi iptek yang diperlukan seluruh warga desa.
5) PTDes akan membangun kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, Dinas Pendidikan, dan LSM dalam pembangunan desa, tentu dengan perencanaan kolektif yang didasarkan pada kebutuhan dan rencana kerja PTDes.
3. SASARAN
Secara umum sasaran peserta (pemanfaat) PTDes adalah seluruh warga desa dengan berbagai latar belakang pekerjaan, kelembagaan, dan segmen sosial sebagai berikut:
- Petani, Buruh Tani, Nelayan, Pedagang kecil, Pengrajin, dsb
- Pengelola Desa, Koperasi, Lembaga Keuangan, Ormas, dsb
- Perempuan, Pemuda, dan Mahasiswa asli desa
- Penduduk miskin (keluarga pra-sejahtera) dan difabel
4. LOKASI DAN WAKTU
- PTDes dapat berlokasi terpusat (terpadu) di Balai Desa dan atau tersebar (terbagi) di beberapa tempat semisal Balai Dusun atau berbagai tempat yang representatif lainnya.
- Peserta dinyatakan “lulus” PTDes setelah mengikuti program pendidikan dan pelatihan yang ditawarkan sekurang-kurangnya selama 2 tahun secara aktif (penuh), serta telah mengikuti sekurang-kurangnya 12 mata diklat aplikatif dengan penilaian baik.
- Lama waktu tempuh setiap mata diklat adalah 4 bulan (caturwulan) atau sekurang-kurangnya 10 kali pertemuan (kelas dan praktikum).
5. KURIKULUM
Kurikulum PTDes didisain bermuatan mata diklat yang (langsung) dapat diterapkan dengan mengacu pada amanat konstitusi (UUD 1945) dalam pengelolaan desa, serta dengan mempertimbangkan problem kontekstual, potensi, dan perkembangan kebutuhan penguasaan Ipteks (kebutuhan pelatihan) yang dinamis (progresif) di setiap desa.
Contoh (ilustrasi) disain kurikulum PTDes Angkatan I (2 Tahun Pertama):
Caturwulan I:Kuliah Pembuka: Mimpi Keberdikarian Ekonomi Desa
|
Caturwulan II:
|
Caturwulan III:
|
Caturwulan IV:
|
Caturwulan V:
|
Caturwulan VI:Tentatif sesuai rumusan (disaain) bersama pasca 1,5 tahun pertama.
Kuliah Penutup: Realisasi Keberdikarian Ekonomi Desa |
Mata diklat yang akan dijalankan sekurang-kurangnya diilkuti oleh 10 orang warga desa. Seorang peserta sekurang-kurangnya menempuh 1 mata diklat wajib dan 1 mata diklat pilihan pada setiap caturwulannya.
6. METODE PEMBELAJARAN
1) PTDes adalah salah satu model pendidikan alternatif-populer bagi orang dewasa, sehingga lebih sesuai dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah rill (real problem-solving) secara konstruktif-ideologis.
2) Metode pembelajaran yang diterapkan PTDes meliputi tutorial, diskusi kelas, kelompok diskusi, praktek kelas, observasi (studi) lapangan, praktek lapangan, dan berbagai metode alternatif yang disesuaikan dengan mata diklat.
3) Tenaga pengajar dapat menyiapkan panduan ajar, serta bersama-sama dengan pengelola PTDes dan peserta menyiapkan kelengkapan pembelajaran sepertihalnya bahan praktek, teknologi (alat) yang diperlukan, dan berbagai sarana lainnya.
4) Penilaian dilakukan oleh Majelis Perguruan Desa beserta Tenaga Pengajar terhadap tingkat keberhasilan peserta dalam diklat PTDes yang akan digunakan sebagai pertimbangan kelulusan dan pemberian “sertifikat” dari PTDes.
7. TENAGA PENGAJAR
Tenaga pengajar (“Dosen”) PTDes adalah siapa saja yang bersedia menjadi relawan pengajar dan memiliki komitmen juang yang kuat dalam usaha merealisasikan kesejahteraan dan keberdikarian masyarakat desa, yang dapat terdiri dari berbagai unsur sebagai berikut:
1) Warga Desa Setempat (Kepala Desa, Ketua Koperasi, Ketua Lembaga Keuangan Desa, Tokoh Pembaharu, Ketua Kelompok Perempuan, BPD, Petani, Tokoh Adat, dan sebagainya.
2) Staf Pengajar Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)
3) Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM
4) Peneliti Pusat Studi Kewirausahaan UMBY
5) Pegiat Mubyarto Institute
6) Pegiat Sentra Ekonomi Kerakyatan (SEKRA)
7) Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta
8) Relawan lain yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Yogyakarta dan sekitarnya
Jumlah dan kualifikasi tenaga pengajar menyesuiakan mata diklat yang berjalan di PTDes, di mana proses rekruitmen dilakukan oleh pengelola (manajemen) PTDes. Pada satu mata diklat dapat terdiri lebih dari satu tenaga pengajar (team-teaching). Pada awalnya tenaga dosen PTDes menjalankan tugasnya secara sukarela (voluntary), tetapi selanjutnya diusahakan dapat melakukannya secara professional dengan kontraprestasi yang layak bagi kemanusiaan.
8. ORGANISASI DAN PENGELOLAAN
PTDes adalah salah satu aset desa yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh warga desa. PTDes adalah salah satu model alternatif pendidikan non formal dan atau pendidikan berbasis masyarakat yang berkembang atas prakarsa masyarakat desa setempat. PTDes dengan begitu adalah manifestasi kedaulatan rakyat dalam pengelolaan dan pengembangan Ilmu Pengatahuan dan Teknologi (IPTEK).
Struktur pengelola PTDes sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) Majelis Perguruan Desa; yang terdiri atas sekurang-kurangnya 3 orang dari dalam dan atau luar desa dengan tugas utama mengarahkan dan member panduan bagi pengelola PTDes agar sejalan (sesuai) dengan latar belakang dan tujuan pendiriannya.
2) Ketua PTDes (“Rektor”); yang diutamakan berasal dari desa setempat (tetapi dapat juga pada awalnya/2 tahun pertama berasal dari luar desa) dengan tugas utama mengelola dan menjalankan kegiatan diklat PTDes.
3) Sekretaris PTDes; berasal dari dalam desa dengan tugas utama membantu Rektor PTDes dalam menjalankan kegiatan PTDes dalam hal administrasi dan berbagai kelengkapan pendukung lainnya.
4) Bidang Akademik; menyiapkan usulan disain kurikulum, merekrut tenaga pengajar, dan mengatur proses pembelajaran
5) Bidang Operasional Kelas; menyiapkan berbagai kebutuhan operasional baik sarana maupun prasarana dalam perkuliahan.
6) Bidang Pembiayaan; meyusun kebutuhan anggaran dan menggali sumber pendanaan dari dalam desa (APBDes) dan pendanaan pendukung dari lembaga dan atau pihak-pihak yang sejalan pemikiran dan mendukung program PTDes di Indonesia sepertihalnya, Pemerintah Daerah, BUMD, BUMN, Depdiknas, Perguruan Tinggi, dan LSM.
7) Bidang Rekruitmen dan SDM; melakukan berbagai macam sosialisasi untuk merekrut calon peserta diklat PTDes dari warga desa setempat, serta mengelola SDM peserta program diklat PTDes.
Personil relawan yang mengisi struktur PTDes sekurang-kurangnya berjumlah 6 orang, yang berasal dari warga desa setempat dan atau relawan/mahasiswa dari luar desa yang bersedia terlibat di dalamnya.
Pada awalnya pengelola menjalankan program PTDes secara sukarela (voluntary), tetapi selanjutkan perlu diusahakan agar pengelola dapat menjalankan PTDes secara professional dengan kontraprestasi yang sepantasnya, melalui berbagai metode penggalian dana (fund-raising) dari dalam dan luar desa secara ketat (selektif), tanpa berpotensi melunturkan idealisme juang personil PTDes.
9. PEMBIAYAAN
Program diklat PTDes dilakukan secara gratis kepada seluruh warga desa setempat. Pembiayaan operasionalisasi PTDes dilakukan dengan berbagai alternatif:
1) Swadaya masyarakat desa yang dapat bersumber dari APBDes (hasil pengelolaan kekayaan/aset desa yang disisihkan), donator warga, dan sumbangan sukarela dari peserta program yang berhasil menjalankan usahanya dengan lebih baik.
2) Kemitraan dengan perguruan tinggi yang mengelola dana-dana pengabdian masyarakat dari berbagai sumber utamanya dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti).
3) Kerjasama dengan BUMN yang mengelola program Corporate Social Responsibility (CSR) Bina Lingkungan dan sejenisnya.
4) Dana-dana dari Depdiknas yang menangani skim pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah) dan pengelola program PKBM.
5) Fee bagi hasil dari jasa konsultasi dan pendampingan yang dilakukan oleh pengelola PTDes.
6) Berbagai sumber lainnya yang tidak mengikat dan tidak bertentangan dengan jatidiri, visi, dan misi PTDes dalam membangun keberdikarian desa-desa di Indonesia.
10. JADWAL
Jadwal penyelenggaraan diklat PTDes diatur sebagai berikut:
| No | Bulan | Kegiatan Akademik | Keterangan (PIC) |
| 1 | Januari-Juli | Rekruitmen Tenaga Pengajar, Sosialisasi, dan Reruitmen Peserta | |
| 2 | 17 Agustus | Kuliah Pembukaan: Keberdikarian Ekonomi Desa | Pendiri Sekra dan Rektor PTDes |
| 3 | 18 Agustus-1 Desember | Diklat Caturwulan I | Tenaga Pengajar PTDes |
| 4 | 2 Desember-17 Desember | Rekruitmen untuk caturwulan II | Pengelola PTDes |
| 5 | 18 Desember-1 April | Diklat Caturwulan II | Tenaga Pengajar PTDes |
| 6 | 2 April-17 April | Rekruitmen untuk caturwulan III | Pengelola PTDes |
| 7 | 18 April-1 Agustus | Diklat Caturwulan III | Tenaga Pengajar PTDes |
| 8 | 2 Agustus-17 Agustus | Rekruitmen untuk caturwulan IV | Pengelola PTDes |
| 9 | 18 Agustus-1 Desember | Diklat Caturwulan IV | Tenaga Pengajar PTDes |
| 10 | 2 Desember-17 Desember | Rekruitmen untuk caturwulan V | Pengelola PTDes |
| 11 | 18 Desember-1 April | Diklat Caturwulan V | Tenaga Pengajar PTDes |
| 12 | 2 April-17 April | Rekruitmen untuk caturwulan VI | Pengelola PTDes |
| 13 | 18 April-1 Agustus | Diklat Caturwulan VI | Tenaga Pengajar PTDes |
| 14 | 2 Agustus-16 Agustus | Evaluasi 2 Tahun Pertama dan Penyusunan Disain Kurikulum 2 Tahun kedua | Pengelola PTDes |
| 15 | 17 Agustus | Kuliah Penutup 2 Tahun Pertama: Realisasi Keberdikarian Ekonomi Desa | Pendiri Sekra dan Rektor PTDes |
| Jadwal diklat PTDes Angkatan 2 akan diatur kemudian oleh pengelola |
11. LAIN-LAIN
Hal-hal lain akan ditambahkan kemudian sesuai respon dan masukan dari parapihak terkait realisasi PTDes di Indonesia. Rencana Anggaran BIaya diklat PTDes akan disusun kemudian sebagai bahan pengembangan PTDes ke depannya.
By: Awan Santosa & Yuni Kurniyatiningsih

Salam pak,,,,,
Saya sebetulnya juga kurang begitu mengerti,,knp orang2 lebih senang menjadi buruh di perusahaan2 luar daripada membangun usaha di daerah asal nya.Mungkin karena melihat masa sekarang ini persaingan global semakin ketat,dan mereka merasa tidak mampu untuk mengikuti laju pasar global.Maka mereka memilih menjadi buruh di perusahaan daripada membuka usaha sendiri.
Mendirikan suatu usaha tidak hanya bermodalkan penguasaan suatu bidang yang akan dijalani,tetapi juga modal yang cukup dan yang paling penting menurut saya adalah mental yang baik pula.Jika tidak mempunya mental yang baik,meskipun menguasai bidang dan mempunyai cukup modal belum tentu mampu mendirikan suatu usaha.karena mereka di awal pendirian usaha mesti akan berpikir jelek nya dulu,jika sustu saat mengalami kegagalan berapa besar modal yang terbuang.
Disini saya sangat menginginkan bagaimana cara untuk membangun kekuatan mental yang baik,agar suatu saat nanti bila mendirikan suatu usaha tidak ada lagi kata takut.
ristin wulansari,,,08061029
Assalamualaikum wr.wb..
Semoga dengan adanya artikel tentang blue print PTdes ini mampu memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang PTdes itu sendiri,karena dengan adanya hal ini dapat menyakinkan masyarakat khususnya masyarakat yang di desa-desa yang masih belum mantap atau ragu-ragu dengan adanya perguruan tinggi desa.Padahal apabila kita mengetahui manfaat dari adanya PTdes itu pastinya akan membawa perubahan yang sangat besar untuk kehidupan yang berada di desa-desa sebagaimana kita ketahui bahwasnnya di desa itu memiliki banyak kekayaan yang tersimpan ,kenapa demikian sebagaimana kita ketahui kalau desa itu adalah pemasok apa saja yang di butuhkan oleh kota maka dari itu dengan adanya hal tersebut PTdes dapat di jadikan sebagai sarana untuk menjadikan desa itu bisa mandiri dan tidak adanya ketergantungan antara pihak desa dengan kota maupun sebaliknya,karena harapannya PTdes mampu mengubah cara pikir masyarakat desa tentang pandangan negatif pada sebuah perguruan tinggi ,yang selama ini memandang biaya yang di perlukan itu tinggi .
Dengan adanya PTdes ini secara otomatis dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat desa agar tidak mudah terpengaruh dengan hal –hal baru atau dengan kata lain masyarakat desa mampu memilah-milah hal yang bisa diambil untuk membangun desa dan selain itu masyarakat desa itu tidak akan mudah menyerahkan apa yang mereka miliki kepada pemerintah,apalagi untuk sekarang-sekarng ini banyak lahan pertanian yang seharusnya menjadi sumber pendapatan itu malah di rubah mejadi sebuah perumahan yang pastinya itu semakin membuat masyarakat desa menderita.
Maka dari itu harapannya adanya PTdes akan membantu masyarakat desa untuk bisa terlepas dari belenggu yang sangat membuat rakyat sengsara.
Trima kasih
Wassalamualaikum wr.wb
assalaamu’alaikum wr.wb
saya pribadi berpendapat.. fungsi dan tujuan PTDes sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kebudayaan jawa yang kuat dan kental dengan sikap kegotongroyongannya, lambat laun mulai luntur akibat berimplikasi dengan budaya asing yang terus menjamur. kebudayaan asing telah menggerogoti kebudayaan desa yang terkenal dengan unggah-ungguh nya.
saya berharap dengan adanya PTDes ini, mampu membangkitkan produktivitas petani desa. seperti di China, pemerintah china memberikan mesin bajak bagi rakyatnya juga subsidi untuk mengembangkan produktivitas petani.
Daerah2 di Indonesia dulu sangat makmur dengan aneka rempah2. ( saya lupa nama daerah nya ) di waktu dulu pernah sukses dengan menanam tanaman bawang putih, sampai2 tanaman bawang putih setara dengan harga emas. Apalagi di tahun 2014 mendatang, Indonesia menarget swasembada 5 komoditas, yaitu beras, jagung, padi, kedelai dan sapi. Dengan adanya PTDes ini…. semoga mampu melakukannya.
Sekian aja dari saya.
Ardiyanto.AP/08051021/UMBY/Manajemen
wassalaamu’alaikum Wr.Wb
assalamuallaikum wr.wb
saya setuju dengan yang di ungkapkan saudari isnswati yaitu tentang dibukanya blueprint PTDes ini semoga bisa menambah akan kesadaran dari masing – masing masyarakat itu sendiri. karena mungkin banyak masyarakat – masyarakat diluar sana yang tidak tahu tentang apa dan bagaiman PTDes sendiri.
jadi dengan di dirikannya sebuah blue print ini lebih menambah wawasan masyarakat itu.
terima kasih
wassalamuallaikum wr.wb
Salam pak,,,,,
Sebelumnya saya ucapkan terima ksh kpd bpk,karena pertanyaan yang saya posting beberapa waktu lalu telah dijawab pada saat kuliah hari rabu kemaren.Saya bertanya seperti itu karena saya ingin menjadi seorang pengusaha.Karena pada dasarnya saya lebih senang bekerja tanpa terikat dengan seorang atasan.Namun saya juga mempunyai perasaan yang sama seperti orang lain.Takut sebelum menjalani atau mendirikan usaha tersebut.Dengan apa yang bapak katakan kemaren itu,saya sedikit lebih bersemangat dan apa yang saya cita2kan dapat terwujud.Amin
salam sukses
dengan adanya pTDes, dan program – program yang telah di rencanakan , smoga berjalan dengan baik, dan banyak diterima masyarakat , terutama bagi masyarakat yang tinggal di desa , dan saya bisa sesuai dengan target yang ingin di capai , bukan hanya omong kosong saja, .memberiikan ruang bagi para petani untuk membudidayakan hasil bumi , dan dikelola untuk menjadi nilai jual yang tinggi , baik sektor UMKM, Petaniaan ,keseniaan , tempat wisata dll
terimakasih ,,,,,
asssalamualaikum.
assalamualaikum
semoga dengan adanya PTDS ini bisa menembah wawasan masyarakat yang ada di desa .bisa menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang ada di desa.masyarakat tidak perlu pergi kekota untuk menuntut ilmu dan mencari pekerjaan.
saya berharap priogram ini bisa berjalan dan memiliki out put yang baik juga.dari desa kita buat negara ini menjadi negara yang besar dan bisa bersaing dengan negara besar yang terus dan selalu berusaha untuk menguasai kekayaan alam kita.menjadi negara yang sanggup untuk berdiri sendiri dan bebas dari setiap belenggu hutang dari luar negeri yang terus membelenggu bangsa ini.mari kita mulai dari diri kita untuk bangsa ini. semoga sukses untuk program PTDS ini.
Asslm. Saya ingin sedikit mengkritik tentang “Blue Print perguruan tiggi desa” yang bpk Awan rencanakan. mungkin program tsb merupakan bagian dari program UKM SEKRA di Universitas Mercu Buana Yk yang juga merupakan satu-satunya UKM yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.saya telah membaca dan mempelajari program2x tsb, namun saya agak ragu atau pesimis mengenai apakah program tersebut mampu sepenuhnya untuk direalisasikan. saya tidak melihat ada progress yang signifikan setelah yang saya lihat hanyalah berupa palnning belaka. banyak temen2x mahasiswa yang bisanya hanya memberi gagasan,masukan2x/ide yang saya rasa itu hanyalah bagian dari sebuah planning saja. memang itu penting untuk perencanaan agar program ini mempunyai rencana yang matang dan jelas. yang kita butuhkan disini adalah “Action” yang benar-benar “real action”,,,jika hal tersebut tdk segera di realisasikan, maka cita2x dari bpk,kami sbg mahasiswa, dan rakyat Indonesia untuk mewujudkan mimpi2x bangsa ini akan pupus. trims wasslm
assalamu’alaikum…..
semoga program PTDes ini dapat berjalan sesuai dengan harapan kita semua.jadi meskipun mereka tinggal di desa bukan berarti mereka harus buta akan pengetahuan dan pendidikan hal seperti itu jangan sampai terjadi lagi setelah adanya program PTDes ini.
karena sesungguhya hasil bumi lebih banyak terdapat di desa, hanya saja mungkin mereka kurang memahami akan hal tersebut.minimya informasi, pengetahuan dan keterampilan mungkin dapat menjadi salah satu penyebabnya.maka dengan diadakanya program PTDes ini semoga masalah-masalah yang selama ini terjadi di desa dapat diatasi dengan baik minimal dapat agak sedikit berkuranglah.
amiin….
Dwi septya N/08081034/Mnj
saya sependapat dengan di adakannya Blue-print PTdes ini,karena telah kita ketahui bahwa desa mempunyai sumber daya alam yang sangat banyak,dimana masyarakat dapat mengelola ladang,sawah,dan perkebunan…dengan adanya blue print ini kita dapat memberikan penyuluhan pada masyarakat agar lebih baik lagi dalam mengelola ladang,sawah,dan perkebunan mereka.
Dengan begitu masyarakat tidak akan paranoid lagi dengan perguruan tinggi yang selalu di kenal dengan biaya yang mahal,dengan begitu masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang hanya ingin memanfaatkan hasil pertanian para petani saja.
mungkin itu saja dari saya.Terima kasih.
Dilihat dari blue-print PTDes, saya salut tentang adanya kurikulum yang mengacu pada amanat konstitusi (UUD 1945) dalam pengelolaan desa, serta dengan mempertimbangkan problem kontekstual, potensi, dan perkembangan kebutuhan penguasaan Ipteks (kebutuhan pelatihan) yang dinamis (progresif) di setiap desa. sehingga masyarakat yang mengikuti program PTDes ini bisa benar-benar berkompeten dan dapat mengembangkan diri dengan mengetahui dan menguasai diklat tentang pengembangan diri dan teknologi di desa Mereka, sebab mata diklat yang diberikan oleh PTDes ini tidak monoton, atau hanya satu aspek saja, disini saya melihat walaupun hanya ilustrasi disain kurikulum, begitu bervariasi mata diklat yang diberikan, terlebih tiap caturwulan dilakukan pergantian mata diklat. Hal yang kedua untuk masalah pembiayaan, masyarakat desa sana tidak perlu melakukan biaya administrasi (gratis). Masyarakat desa lebih ringan dalam menjalaninya, seperti kita ketahui bersama, penghasilan masyarakat desa kurang dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga kebanyakan dari mereka banyak putus dan atau tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akibat tidak adanya biaya. Dilihat dari jadwal penyelenggaraan diklat, saat ini PTDes sedang melakukan Rekruitmen Tenaga Pengajar, Sosialisasi, dan Reruitmen Peserta, semoga Hal ini dapat berjalan dengan Lancar, dan dibalas dengan respon positif dari masyarakat Desa. Amien
Assalam…..
Saya sangat mendukung sekali dengan diadakannya PTDes,karena saya sendiri juga hidup didesa,dan melihat kondisi desa saya,sungguh memprihatinkan.Kebanyakan anak lulusan SMK/SMA selalu bergantung menjadi buruh diperusahaan,baik dalam negeri maupun luar negeri.Sehingga nasib mereka tegantung pada perusahaan tersebut,bukan dari diri mereka sendiri.Mereka tidak memikirkan masa depan mereka.
Saya harap dengan adanya PTDes ini,bisa membuka hati mereka,bahwa mereka sebenarnya bisa hidup bebes,sukses tanpa bergantung pada perusahaan luar.
Disamping itu,juga akan meningkatkan kualitas pengetahuan didesa,dan bisa membuktikan,bahwa hidup didesa bukan berarti semua dinilai rendah.Kita dapat membuktikan hidup didesa juga bisa lebih maju.
Semoga semua dapat terlaksana sesuai yang diharapkan.
wassalam….
Merdeka…..begitu hebatnya bapak awan ini,yang rela mengorbankan waktunya hanya demi peningkatan solidariras dan fleksibelitas kaum miskin yang sampai sekarang masih blum memahami arti pentingnya pendidikan…sukseskan selalu bapak niat dan keingin bapak saya yakin bapak banyak yang mendukung.
saya sangat setuju sekali apabila adanya PT des yang akan sedang di luncurkan…apa lagi bila dosen pengajarnya dari mahasiswa mercu buana…wow fantastic sekali apabila para mahasiswa ikut terlibat dan terjun dalam perencanaan yang telah bapak agendakan….
tetap jaya bapak awan santosa tetap tegakan dalam mengubah mindset masyarakat khusunya kaum miskin