Setelah 65 Tahun, Seberapa Merdeka Ekonomi Kita?
Inilah situasi perekonomian kita setelah 65 tahun merdeka:
- 1. Masih menjadi pemasok bahan mentah (migas, batubara, emas, CPO, dsb) bagi pihak luar negeri. Semua kekayaan tersebut berada di desa, tetapi dari total 32 juta penduduk miskin saat ini sebagian besarnya berada di desa.
- 2. Masih menjadi pasaran bagi pabrik/perusahaan (alat mandi, air minum, otomotif, saprotan, susu, komoditi pertanian, dsb) dari luar negeri. Hampir semua sumber daya (bahan baku) produk tersebut ada di desa, tetapi desa pun masih menjadi pasaran produk perusahaan luar desa (luar negeri).
- 3. Masih menjadi tempat pemutar kelebihan modal pihak luar negeri, baik melalui pasar modal, pasar uang, maupun utang luar negeri. Pembangunan desa terus dibiayai dengan membengkaknya utang luar negeri dan ketergantungan finansial pada pihak luar negeri.
- 4. Masih mengalami ketergantungan dalam penyusunan Undang-Undang Ekonomi (UU BUMN, UU Ketenagalistrikan, UU Penanaman Modal, UU Sumber Daya Air, dsb) pada pihak luar negeri. UU tersebut makin memerosotkan keberdikarian dan koperasi rakyat desa.
- 5. Masih menjadi pemasok tenaga kerja yang diupah murah bagi perusahaan/pihak luar negeri. Sebagian besar dari mereka –terutama TKI- yang seringkali menjadi korban eksploitasi dan marjinalisasi adalah berasal dari desa.
MERDEKA!!!
“Indonesian independence from the colonizers only but economically colonized!!”
itulah kenyataan yang terjadi di dalam negara kita, Indonesia tercinta. bahwa sekarang ini memang Indonesia telah merdeka dari para penjajah akan tetapi belum merdeka secara ekonomi dan pendidikan. masih banyak penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan dan banyak juga anak-anak Indonesia yang tidak bisa menikmati bangku pendidikan. kemiskinan dari segi pendidikan di sebabkan oleh kemiskinan secara ekonomi!!
meskipun telah disahkannya kebijakan pendidikan gratis untuk sekolah negeri akan tetapi masih saja terjadi pungli-pungli (pungutan liar) para oknum pendidik! yang akibatnya tetap saja anak-anak yang menjadi korban, mereka tetap tidak bisa menikmati pendidikan seperti yang mereka impikan….